Yang aku inginkan engkau ada di sini
menemani hidupku disepanjang waktuku
Yang aku inginkan kamu ada dihatiku mengisi relung sukmaku yang merindu
Akankkah semua ini abadi
Dapatkah selamanya kau ada di sisi
Aku ingin rasa ini terjadi
terwujud tak hanya sebuah mimpi-mimpi
Ku jaga engkau sampai akhir masa nanti
Sampai ragaku ini tak lagi berdiri
Kuharap semua tetap abadi
Kuingin selamanya kau tetap disini
Aku ingin rasa ini terjadi
terwujud tak hanya sebuah mimpi-mimpi
Aku ingin cinta terjalin
terwujud tak hanya, hanya angan-angan
Senin, 04 April 2011
Jumat, 18 Maret 2011
JALAR KOMAKU
Jalin kasihku mulai tertaut satu demi satu
Seperti menyibak tumpukan jalar,
padangku menyusut titik demi titik
mencipta koma:
koma jalarku mengeja huruf J-O-G-J-A
koma jalarku mengeja hurus R-A-S-A
dan koma jalarku mencipta deretan
A-U-F-K-L-A-R-U-N-G...!!!
Hingga koma jalarku berkata:
“Waspada, anda berada di Zona Bahaya...stabilkan suhu udara dalam hati!”
(Jogja: 16-17 Maret 2011)
Seperti menyibak tumpukan jalar,
padangku menyusut titik demi titik
mencipta koma:
koma jalarku mengeja huruf J-O-G-J-A
koma jalarku mengeja hurus R-A-S-A
dan koma jalarku mencipta deretan
A-U-F-K-L-A-R-U-N-G...!!!
Hingga koma jalarku berkata:
“Waspada, anda berada di Zona Bahaya...stabilkan suhu udara dalam hati!”
(Jogja: 16-17 Maret 2011)
Minggu, 27 Februari 2011
Bahasa Jawa Punah di Pulau Jawa ??
Ya, mungkin itu yang akan terjadi dalam kurun waktu 20-30 tahun lagi jika bahasa Jawa kian terpinggirkan di kalangan masyarakat pulau Jawa itu sendiri. Sebagai pemilik bahasa Jawa, masyarakat Jawa seharusnya menjaga kelestarian dan kelangsungan hidup bahasa Jawa di komunitasnya sendiri. Namun yang terjadi malah sebaliknya, yang terjadi saat ini para kaum muda di pulau Jawa, khususnya mereka yang masih menginjak usia sekolah hampir sebagian besar tidak menguasai bahasa Jawa alias gagap berbahasa Jawa.
Hal itu bisa disebabkan oleh gencarnya serbuan beragam budaya asing dan arus informasi yang masuk melalui bermacam sarana seperti televisi dan lain-lain. Pemakaian bahasa gaul, bahasa asing dan bahasa seenaknya sendiri (campuran jawa indonesia english)juga ikut memperparah kondisi bahasa Jawa yang semakin lama semakin surut ini di Jawa.
Betapa tidak, saat ini murid tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah yang mendapatkan pelajaran bahasa Jawa sebagian besar dari bangku sekolah. Sementara pelajaran bahasa Jawa yang dulunya merupakan pelajaran wajib sekarang hendak (bahkan sudah mulai) dihilangkan daftar mata pelajaran sekolah.
Sedangkan penggunaan bahasa Jawa di lingkungan rumah pun tidak lagi seketat seperti di masa-masa dulu. Orang tua tidak lagi membiasakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari sebagai alat komunikasi di keluarga. Bahasa Indonesia atau bahasa asing yang diajarkan kepada anak-anak mereka, entah dengan berbagai macam pertimbangan. Bahasa Jawa, apalagi bahasa Krama Inggil pun kian terabaikan. Dan juga yang kian memperparah adalah pandangan terhadap bahasa Jawa dari generasi muda adalah bahasa orang-orang desa, orang udik, orang-orang pinggiran, atau orang-orang jadul.
Jika pengembangan bahasa Jawa ini tidak berkelanjutan alias putus di generasi muda sekarang maka benar-benar akan terjadi kepunahan bahasa Jawa di daerahnya sendiri. Bagaimana bisa menjelaskan dan melatih anak cucu mereka jika mereka sendiri tak mampu berbahasa Jawa.
Seperti bisa kita lihat di Surabaya atau wilayah sekitarnya yang notabene adalah pemakai bahasa Ngoko kasar, coba ajak anak-anak muda berbicara bahasa Jawa halus atau Krama Inggil yang njelimet dan ruwet itu, pastilah mereka akan gagap dan kesusahan dalam berbahasa Jawa halus, karena kebiasaan berbahasa Jawa mereka ya bahasa Ngoko kasar itu. (Saya pun juga demikian, meski asli Trenggalek kemudian menghabiskan waktu kecil di Gresik, kemudian balik lagi ke Trenggalek dan sekarang di Surabaya, akan tetapi dikarenakan tidak biasa berbahasa Jawa halus ya lumayan gagap jika disuruh berbahasa Jawa Krama apalagi Krama Inggil hehehehe... Maaf!). Dan hal seperti itu tidak hanya terjadi di wilayah Jawa Timur aja, tetapi juga nyaris di seluruh pulau Jawa.
Mungkin untuk saat ini kaum ningrat di lingkungan keraton dan sekitarnya yang bertutur bahasa super halus itu yang bisa melestarikan penggunaan dan pengembangan bahasa Jawa ini. Atau juga masyarakat pedesaan yang masih terbiasa berbahasa Jawa karena kondisi lingkungan yang menuntut hal seperti itu, dan para dalang yang bahasanya aneh-aneh itu, hehehe.
Nah, coba bayangkan jika seluruh masyarakat pulau Jawa ini tak mampu lagi berbahasa Jawa maka yang terjadi adalah hilangnya bahasa Jawa di pulau Jawa itu sendiri.
Oh bahasa Jawa, nasibmu kini....
Hal itu bisa disebabkan oleh gencarnya serbuan beragam budaya asing dan arus informasi yang masuk melalui bermacam sarana seperti televisi dan lain-lain. Pemakaian bahasa gaul, bahasa asing dan bahasa seenaknya sendiri (campuran jawa indonesia english)juga ikut memperparah kondisi bahasa Jawa yang semakin lama semakin surut ini di Jawa.
Betapa tidak, saat ini murid tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah yang mendapatkan pelajaran bahasa Jawa sebagian besar dari bangku sekolah. Sementara pelajaran bahasa Jawa yang dulunya merupakan pelajaran wajib sekarang hendak (bahkan sudah mulai) dihilangkan daftar mata pelajaran sekolah.
Sedangkan penggunaan bahasa Jawa di lingkungan rumah pun tidak lagi seketat seperti di masa-masa dulu. Orang tua tidak lagi membiasakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari sebagai alat komunikasi di keluarga. Bahasa Indonesia atau bahasa asing yang diajarkan kepada anak-anak mereka, entah dengan berbagai macam pertimbangan. Bahasa Jawa, apalagi bahasa Krama Inggil pun kian terabaikan. Dan juga yang kian memperparah adalah pandangan terhadap bahasa Jawa dari generasi muda adalah bahasa orang-orang desa, orang udik, orang-orang pinggiran, atau orang-orang jadul.
Jika pengembangan bahasa Jawa ini tidak berkelanjutan alias putus di generasi muda sekarang maka benar-benar akan terjadi kepunahan bahasa Jawa di daerahnya sendiri. Bagaimana bisa menjelaskan dan melatih anak cucu mereka jika mereka sendiri tak mampu berbahasa Jawa.
Seperti bisa kita lihat di Surabaya atau wilayah sekitarnya yang notabene adalah pemakai bahasa Ngoko kasar, coba ajak anak-anak muda berbicara bahasa Jawa halus atau Krama Inggil yang njelimet dan ruwet itu, pastilah mereka akan gagap dan kesusahan dalam berbahasa Jawa halus, karena kebiasaan berbahasa Jawa mereka ya bahasa Ngoko kasar itu. (Saya pun juga demikian, meski asli Trenggalek kemudian menghabiskan waktu kecil di Gresik, kemudian balik lagi ke Trenggalek dan sekarang di Surabaya, akan tetapi dikarenakan tidak biasa berbahasa Jawa halus ya lumayan gagap jika disuruh berbahasa Jawa Krama apalagi Krama Inggil hehehehe... Maaf!). Dan hal seperti itu tidak hanya terjadi di wilayah Jawa Timur aja, tetapi juga nyaris di seluruh pulau Jawa.
Mungkin untuk saat ini kaum ningrat di lingkungan keraton dan sekitarnya yang bertutur bahasa super halus itu yang bisa melestarikan penggunaan dan pengembangan bahasa Jawa ini. Atau juga masyarakat pedesaan yang masih terbiasa berbahasa Jawa karena kondisi lingkungan yang menuntut hal seperti itu, dan para dalang yang bahasanya aneh-aneh itu, hehehe.
Nah, coba bayangkan jika seluruh masyarakat pulau Jawa ini tak mampu lagi berbahasa Jawa maka yang terjadi adalah hilangnya bahasa Jawa di pulau Jawa itu sendiri.
Oh bahasa Jawa, nasibmu kini....
Sabtu, 26 Februari 2011
Japan's poem
Alangkah keringnya pagi, tanpa embun didaunku
たいへんかわ,大変乾くあさ,朝、ぼく,僕のは,葉につゆ,露がない。
Taihen kawaku asa, boku no ha ni tsuyu ga nai.
Alangkah kosongnya angin, tanpa gerak didaunku
たいへんから,大変空っぽなかぜ,風、ぼく,僕のは,葉が 動かない。
Taihen karappona kaze, boku no ha ga ugokanai.
Mengibaskan, mengirim sejuk keparu-parumu itu.
ふ,振って、すず,涼しさをおく,送る。きみ,君のはい,肺へ。
Futte, suzushisawo okuru. Kimi no hai e.
たいへんかわ,大変乾くあさ,朝、ぼく,僕のは,葉につゆ,露がない。
Taihen kawaku asa, boku no ha ni tsuyu ga nai.
Alangkah kosongnya angin, tanpa gerak didaunku
たいへんから,大変空っぽなかぜ,風、ぼく,僕のは,葉が 動かない。
Taihen karappona kaze, boku no ha ga ugokanai.
Mengibaskan, mengirim sejuk keparu-parumu itu.
ふ,振って、すず,涼しさをおく,送る。きみ,君のはい,肺へ。
Futte, suzushisawo okuru. Kimi no hai e.
Minggu, 13 Februari 2011
RINDUNG
Gruduk…
Gruduk…
Gruduk…
Gemuruh Gluduk
Menciduk bulu kuduk
Tak sempat terbentuk
berjalan terantuk
semua mengantuk
terbawa kantuk
tuk…
tuk…
tuk…
kebluntuk
Sandra (2008: puncak ungaran)
Gruduk…
Gruduk…
Gemuruh Gluduk
Menciduk bulu kuduk
Tak sempat terbentuk
berjalan terantuk
semua mengantuk
terbawa kantuk
tuk…
tuk…
tuk…
kebluntuk
Sandra (2008: puncak ungaran)
Rabu, 12 Januari 2011
Dampak Pembagian Kerja Gender Terhadap Pendidikan Anak
Kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam era globalisasi ternyata tidak sepenuhnya berdampak positif. Permasalahan-permasalahan baru yang mengiringi tidak jarang mengguncang kehidupan sosial masyarakat. Perubahan yang berlangsung bahkan sering kita lihat sebagai pemicu dasyat bagi pergeseran nilai-nilai normatif kehidupan.
Perbincangan perempuan dalam rubrik kesetaraan gender dewasa ini yang dilahirkan oleh kemajuan globalisasi bukan menjadi suatu hal yang tabu dimata publik. Pelbagai wacana mengenai ketimpangan gender dalam kultur masyarakat lokal maupun modern selalu pasang surut berkenaan dengan konteks yang mengikutinya. Perempuan yang dalam perannya yang asasi dan urgen sesuai dengan nalurinya aadalah berada di dalam rumah, yaitu mendidik anak-anak dan melayani suami. Hal itu bhukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan hina, tetapi merupakan pekerjaan yang teramat mulia, tanggung jawab yang berat dan pekerjaan yang luhur. Suatu hal yang sangat berbahaya yang dilakukan dalam dunia modern ini adalah berpalingnya seorang wanita dari rumahnya dan anak-anaknya. Perempuan meninggalkan ranah domestik sebagai ibu rumah tangga dan sibuk diranah publik bersama kaum lelaki. Kenyataan seperti ini, sudah diakui oleh pakar pendidikan mengenai dekadensi moral, yakni mereka meneliti langsung masalah-masalah tersebut.
Masyarakat kadang-kadang juga membutuhkan keterlibatan kaum wanita dalam berbagai hal yang sesuai dengan karakteristiknya, misalnya dokter, guru atau juru rawat. Dengan catatan, pekerjaan-pekerjaan itu masih dalam lingkup dunia perempuan semata.
Tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Profesor Omas Ihromi dalam bukunya yang berjudul Kajian Perempuan dalam Pembangunan, mengatakan bahwa sejumlah 43% dari pasangan suami istri di Indonesia menerapkan pembagian peran atau saling menggantikan peran-peran tersebut. Baik pasangan yang sama-sama bekerja maupun pasangan yang benar-benar bertukar peran: suami tinggal di dalam rumah menggantikan tugas istri, sedangkan istri bekerja di sektor industri pabrik sebagai buruh, pembantu, atau pelayan. Umumnya pembagian peran (kerja) tersebut dilakukan oleh kalangan ekonomi rendah di pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi memang mempengaruhi pola pembagian peran antara suami dan istri.
Pembagian peran
Pembagian kerja gender atau pembagian kerja menurut jenis kelamin mewujudkan mewujudkan suatu tindakan yang mana seluruh bidang kegiatan yang ada dalam suatu masyarakat dibagi menurut jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Menurut Budiman (1985) dan Sayogyo (1988) bidang tersebut dapat dibagi antar lapangan pekerjaan, misalnya perempuan mengasuh anak sedangkan laki-laki berburu atau dapat juga dibagi dalam suatu lapangan pekerjaan perempuan menanam padi dan laki-laki membajak sawah.
Dalam meninjau peranan perempuan dalam masyarakat menurut Budiman, kita harus memperhatikan dua teori besar yaitu teori alamiah (nature) dan teori sosial budaya (nurture). Pada pembahasan teori alamiah, perempuan dan laki-laki dibedakan atas dasar faktor biologis, sedang pada pembahasan teori sosial budaya pembedaan tercipta melalui proses belajar dari lingkungannya. Perbedaan biologis oleh masyarakat dijadikan alasan untuk membedakan perempuan dan laki-laki dalam banyak hal, termasuk “merumahkan” perempuan untuk melindungi perempuan dari dunia luar yang dianggap lebih keras. Dengan adanya stereotip bahwa perempuan berperan dalam lingkup domestik dan laki-laki di lingkup publik, maka jika karena suatu sebab perempuan harus bekerja di luar rumah, pembagian kerja menurut jenis kelamin terus dilestarikan di dunia kerja, perempuan dinilai hanya boleh atau tidak pantas memasuki lapangan kerja tertentu.
Pendidikan Anak
Banyak penelitian menunjukkan bahwa dalam pendidikan masih terdapat muatan bias gender. Bahkan dinyatakan, peran publik perempuan lebih rendah dari pada laki-laki serta akses dan kontrol wanita terhadap pengambilan keputusan lebih rendah dari pada laki-laki. Dalam kancah pendidikan, peran perempuan yang termarginal secara sosial, banyak mendatangkan efek negatif seperti misalnya belum adanya wawasan gender baik pada laki-laki maupun perempuan. Adanya perasaan minder pada laki-laki yang mempunyai pendidikan lebih rendah dan perempuan masih banyak terjadi.
Menurut Jacinta F. Rini, M.Si, secara psikologis anak usia enam tahun sedang berada dalam tahap perkembangan dimana sense of industry mereka semakin tinggi. Pada akan muncul kebutuhan untuk menjadi diri sendiri, kebutuhan untuk bereksplorasi, serta meningkatkan kepercayaan diri.
Umumnya setiap anak memiliki tiga kebutuha dasar: kebutuhan akan otonomi yakni kebutuhan untuk menentukan pilihan-pilihan sendiri, kebutuhan akan perasaan kompeten yakni kebutuhan anak untuk merasa bahwa dirinya mampu melakukan segala hal sendiri, serta kebutuhan untuk berhubungan secara sehat dengan orang lain.
Kenyataannya perilaku anak-anak buah dari pembagian kerja gender tidak sesuai dengan perkembangan perilaku anak-anak normalnya. Mereka cenderung kurang terdidik dan mendapat kasih sayang dari orang tuanya terutama ibu. Namun hal tersebut jarang diindahkan oleh orang tua mereka yang masih tetap asik pada pekerjaannya masing-masing. Akibatnya pola tingkah laku anak menjadi brutal dan cenderung mencari kesibukan di luar rumah.
¬_Sandra Novita Sari, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Semarang
Perbincangan perempuan dalam rubrik kesetaraan gender dewasa ini yang dilahirkan oleh kemajuan globalisasi bukan menjadi suatu hal yang tabu dimata publik. Pelbagai wacana mengenai ketimpangan gender dalam kultur masyarakat lokal maupun modern selalu pasang surut berkenaan dengan konteks yang mengikutinya. Perempuan yang dalam perannya yang asasi dan urgen sesuai dengan nalurinya aadalah berada di dalam rumah, yaitu mendidik anak-anak dan melayani suami. Hal itu bhukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan hina, tetapi merupakan pekerjaan yang teramat mulia, tanggung jawab yang berat dan pekerjaan yang luhur. Suatu hal yang sangat berbahaya yang dilakukan dalam dunia modern ini adalah berpalingnya seorang wanita dari rumahnya dan anak-anaknya. Perempuan meninggalkan ranah domestik sebagai ibu rumah tangga dan sibuk diranah publik bersama kaum lelaki. Kenyataan seperti ini, sudah diakui oleh pakar pendidikan mengenai dekadensi moral, yakni mereka meneliti langsung masalah-masalah tersebut.
Masyarakat kadang-kadang juga membutuhkan keterlibatan kaum wanita dalam berbagai hal yang sesuai dengan karakteristiknya, misalnya dokter, guru atau juru rawat. Dengan catatan, pekerjaan-pekerjaan itu masih dalam lingkup dunia perempuan semata.
Tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Profesor Omas Ihromi dalam bukunya yang berjudul Kajian Perempuan dalam Pembangunan, mengatakan bahwa sejumlah 43% dari pasangan suami istri di Indonesia menerapkan pembagian peran atau saling menggantikan peran-peran tersebut. Baik pasangan yang sama-sama bekerja maupun pasangan yang benar-benar bertukar peran: suami tinggal di dalam rumah menggantikan tugas istri, sedangkan istri bekerja di sektor industri pabrik sebagai buruh, pembantu, atau pelayan. Umumnya pembagian peran (kerja) tersebut dilakukan oleh kalangan ekonomi rendah di pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi memang mempengaruhi pola pembagian peran antara suami dan istri.
Pembagian peran
Pembagian kerja gender atau pembagian kerja menurut jenis kelamin mewujudkan mewujudkan suatu tindakan yang mana seluruh bidang kegiatan yang ada dalam suatu masyarakat dibagi menurut jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Menurut Budiman (1985) dan Sayogyo (1988) bidang tersebut dapat dibagi antar lapangan pekerjaan, misalnya perempuan mengasuh anak sedangkan laki-laki berburu atau dapat juga dibagi dalam suatu lapangan pekerjaan perempuan menanam padi dan laki-laki membajak sawah.
Dalam meninjau peranan perempuan dalam masyarakat menurut Budiman, kita harus memperhatikan dua teori besar yaitu teori alamiah (nature) dan teori sosial budaya (nurture). Pada pembahasan teori alamiah, perempuan dan laki-laki dibedakan atas dasar faktor biologis, sedang pada pembahasan teori sosial budaya pembedaan tercipta melalui proses belajar dari lingkungannya. Perbedaan biologis oleh masyarakat dijadikan alasan untuk membedakan perempuan dan laki-laki dalam banyak hal, termasuk “merumahkan” perempuan untuk melindungi perempuan dari dunia luar yang dianggap lebih keras. Dengan adanya stereotip bahwa perempuan berperan dalam lingkup domestik dan laki-laki di lingkup publik, maka jika karena suatu sebab perempuan harus bekerja di luar rumah, pembagian kerja menurut jenis kelamin terus dilestarikan di dunia kerja, perempuan dinilai hanya boleh atau tidak pantas memasuki lapangan kerja tertentu.
Pendidikan Anak
Banyak penelitian menunjukkan bahwa dalam pendidikan masih terdapat muatan bias gender. Bahkan dinyatakan, peran publik perempuan lebih rendah dari pada laki-laki serta akses dan kontrol wanita terhadap pengambilan keputusan lebih rendah dari pada laki-laki. Dalam kancah pendidikan, peran perempuan yang termarginal secara sosial, banyak mendatangkan efek negatif seperti misalnya belum adanya wawasan gender baik pada laki-laki maupun perempuan. Adanya perasaan minder pada laki-laki yang mempunyai pendidikan lebih rendah dan perempuan masih banyak terjadi.
Menurut Jacinta F. Rini, M.Si, secara psikologis anak usia enam tahun sedang berada dalam tahap perkembangan dimana sense of industry mereka semakin tinggi. Pada akan muncul kebutuhan untuk menjadi diri sendiri, kebutuhan untuk bereksplorasi, serta meningkatkan kepercayaan diri.
Umumnya setiap anak memiliki tiga kebutuha dasar: kebutuhan akan otonomi yakni kebutuhan untuk menentukan pilihan-pilihan sendiri, kebutuhan akan perasaan kompeten yakni kebutuhan anak untuk merasa bahwa dirinya mampu melakukan segala hal sendiri, serta kebutuhan untuk berhubungan secara sehat dengan orang lain.
Kenyataannya perilaku anak-anak buah dari pembagian kerja gender tidak sesuai dengan perkembangan perilaku anak-anak normalnya. Mereka cenderung kurang terdidik dan mendapat kasih sayang dari orang tuanya terutama ibu. Namun hal tersebut jarang diindahkan oleh orang tua mereka yang masih tetap asik pada pekerjaannya masing-masing. Akibatnya pola tingkah laku anak menjadi brutal dan cenderung mencari kesibukan di luar rumah.
¬_Sandra Novita Sari, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Semarang
Kamis, 23 Desember 2010
Kiprah “RESIST BOOK” sebagai Lambang Perlawanan
Dewasa ini banyak penerbit yang bergerak dalam bidang penerbitan sastra. Tetapi resistbook tetap eksis pada bidangnya yaitu penerbitan nonfiksi yang khusus pada tema tertentu seperti tema sosial, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan filsafat.
Keeksisan resist book patut diacungi jempol, sebab pada zaman sekarang sangat sulit menemukan penerbit semacam itu. Seperti halnya ketika mengunjungi penebit ini (20/7) mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang dalam program Kuliah Kerja Lapangan (KKL), mendapati hal yang serupa. Penerbitan yang digawangi oleh wawan selaku bagian redaksi ini sangat keukeuh dalam mempertahankan tradisi intelektual yang berorientasi pada gerakan-gerakan sosial. Penerbitan ini tidak memperhatikan untung rugi ketika menerbitkan sebuah karya.
Resist book sebagai bengkel kata-kata atau lebih tepatnya sering disebut sebagai pengolah naskah mempunyai syarat tersendiri ketika menyeleksi syarat yang masuk. Seperti tema yang diangkat harus aktual, naskah tersebut belum pernah diterbitkan, masalah yang ditulis berkutat pada masalah yang kritis pada sistem yang dominan. Menurut Titis bagian jaringan pengembangan Resist Book, tema yang sering diangkat atau diterbitkan selalu berpihak pada kaum marginal. Hanya selalu kaum-kaum kecil yang disoroti, karena mereka selalu mendapatkan perlakukan yang kurang adil dalam masyarakat.
Salah satu buku yang diterbitkan oleh Resist Book yang mengusung tema sosial dan berpihak pada kaum miskin adalah buku Kaum Miskin Bersatulah karya Eko Prasetyo. Buku ini adalah buku yang paling laris terjual sebanyak 10 ribu exemplar pada tahun 2005, dan mengalami tiga sampai empat kali cetak. Berisi tentang permasalahan kritis yang bertema kemiskinan. Bahwa kemiskinan sepatutnya jadi lambang negeri ini. Mereka bukan hanya berjumlah banyak tapi menyembul kemana-mana. Papan larangan untuk pemulung, pengemis, dan pengamen tersebar disemua tempat. Mereka seperti barang najis yang harus dijauhi. Seolah spesies yang mengancam dan perlu dikurung di tempat tertentu. Padahal kemiskinan bukan salah mereka. Andai hidup itu berdiri diatas pilihan bebas, pasti tidak ada yang memilih menjadi orang miskin. Hidup bukan ditentukan oleh pilihan sendiri, tetapi juga digariskan oleh struktur sosial. Kini waktunya orang miskin menyatukan pilihan. Waktunya membangun gerakan bersama. Bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan, melainkan juga merebut ruang keputusan politik yang telah lama hilang, bukan saatnya menjadi ‘budak dan massa’ yang diarahkan terus menerus. Dibantu sekedarnya, tetapi dibiarkan miskin selamanya. Waktunya yang miskin merebut.
Itu merupakan salah satu buku yang sangat inspiratif yang telah diterbitkan oleh Resist Book. Buku-buku terbitan Resist Book terbagi atas beberapa seri, diantaraya adalah seri gerakan sosial, seri melawan globalisasi, seri dilarang miskin, seri revolusi, seri anti militerisme, seri penggagas muda, seri pendidikan kritis, seri idiologi, seri komik, seri anti gaya hidup, dan seri kajian agraria. Melihat seri-seri terbitan Resist Book semakin memperkuat citra Resist Book yang benar-benar berada pada garis perjuangan. Mengapa perjuangan? Tentunya itulah kata yang pantas untuk menggambarkan kiprah Resist Book dalam dunia penerbitan. Begitu sulitnya bertahan dalam posisi demikian. Jika melihat dari segi keuntungan, jelas resist tidak mengalaminya, sebab buku-buku yang banyak diminati oleh pembaca kebanyakan bergenre fiksi. Sedangkan buku-buku bergenre non fiksi sangat kurang diminati. Melihat tingkat ketertarikan yang minim terhadap buku-buku yang diterbitkannya, resist semakin terpuruk dan berjalan terseok-seok. Pihak-pihak pendukung dari luar juga kurang apresiatif. Hanya sekumpulan anak muda yang memutar roda penerbitan dengan slogan: Baca & Lawan saja yang berani berdiri dipinggir jurang dan sewaktu-waktu dapat jatuh jika tidak pintar-pintar mengelola resist.
Sejauh ini resist masih kesulitan dalam mencari naskah yang sesuai dengan spesifikasinya yang benar-benar berada pada ranah pergerakan dan berorientasi pada teks-teks yang membangkitkan kepedulian, simpati, dan keberpihakan pada mereka yang menjadi korban. Karena kembali lagi Resist Book adalah penerbitan yang mengancang pengembangan wacana kritis dan gagasan perlawanan progresif. Sebelum menerbitkan buku, resist mencari naskah terlebih dahulu kemudian naskah dipilah sesuai dengan tema yang sedang hangat dibicarakan atau tema-tema yang booming. Naskah yang sudah terpilih lalu disunting mulai dari menyunting isi, bahasa , dan penyajian. Dan yang terakhir adalah mendesain cover buku yang diinginkan oleh penulis.
Disinilah titik perjuangan sebenarnya. Masalah-masalah yang kritis tetapi sering dilupakan diangkat dan diterbitkan oleh resist, masalah yang sepele dan terlihat kurang menarik, dikemas sedemikian rupa sehingga layak baca oleh resist. Menjadi sebuah lambang perlawanan tidaklah mudah, sekali lagi butuh perjuangan agar tetap eksis dalam dunia penerbitan. Untuk tetap eksis pun tidak semudah membalikkan telapak tangan sama halnya dengan memahami realitas dan bagian keberadaan (eksistensi) itu sendiri.
Pembentukan eksistensi Resist Book yang bisa dikatakan jatuh bangun ini diprakasai oleh sekumpulan pemuda yang mempunyai semangat yang tidak pernah luntur dan selalu ditanamkan. Merekalah yang sebenarnya menjadi roh dari eksistensi Resist Book. Resist yang dulunya adalah bagian dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berwujud Insist Press, kini berhasil melebarkan sayap menjadi badan penerbitan yang berkarakter. Resist baru saja merubah orientasi yang awalnya hanya menerbitkan buku, sekarang menjadi pabrik kata dengan mengadakan pelatihan dan riset-riset. Struktur yang ada dalam tubuh resist terdiri atas struktur internal yaitu admin dan keuangan lalu redaksi dan riset, sedangkan struktur eksternal terdiri atas jaringan dan pengembangan, pemasaran dan distribusi, yang terakhir adalah pencetakan. Dalam jangka waktu satu bulan, Resist biasa menerbitkan satu sampai tiga buku.
Kita sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra indonesia dan kaum akademisi yang selalu berkutat dengan masalah sosial, harus mendukung perjuangan Resist Book karena mahasiswa juga bisa mencanangkan diri sebagai sekumpulan pemuda yang hendak mendorong sebuah tradisi intelektual yang berorientasi pada praksis gerakan.
_Sandra Novita Sari, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNNES
Keeksisan resist book patut diacungi jempol, sebab pada zaman sekarang sangat sulit menemukan penerbit semacam itu. Seperti halnya ketika mengunjungi penebit ini (20/7) mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang dalam program Kuliah Kerja Lapangan (KKL), mendapati hal yang serupa. Penerbitan yang digawangi oleh wawan selaku bagian redaksi ini sangat keukeuh dalam mempertahankan tradisi intelektual yang berorientasi pada gerakan-gerakan sosial. Penerbitan ini tidak memperhatikan untung rugi ketika menerbitkan sebuah karya.
Resist book sebagai bengkel kata-kata atau lebih tepatnya sering disebut sebagai pengolah naskah mempunyai syarat tersendiri ketika menyeleksi syarat yang masuk. Seperti tema yang diangkat harus aktual, naskah tersebut belum pernah diterbitkan, masalah yang ditulis berkutat pada masalah yang kritis pada sistem yang dominan. Menurut Titis bagian jaringan pengembangan Resist Book, tema yang sering diangkat atau diterbitkan selalu berpihak pada kaum marginal. Hanya selalu kaum-kaum kecil yang disoroti, karena mereka selalu mendapatkan perlakukan yang kurang adil dalam masyarakat.
Salah satu buku yang diterbitkan oleh Resist Book yang mengusung tema sosial dan berpihak pada kaum miskin adalah buku Kaum Miskin Bersatulah karya Eko Prasetyo. Buku ini adalah buku yang paling laris terjual sebanyak 10 ribu exemplar pada tahun 2005, dan mengalami tiga sampai empat kali cetak. Berisi tentang permasalahan kritis yang bertema kemiskinan. Bahwa kemiskinan sepatutnya jadi lambang negeri ini. Mereka bukan hanya berjumlah banyak tapi menyembul kemana-mana. Papan larangan untuk pemulung, pengemis, dan pengamen tersebar disemua tempat. Mereka seperti barang najis yang harus dijauhi. Seolah spesies yang mengancam dan perlu dikurung di tempat tertentu. Padahal kemiskinan bukan salah mereka. Andai hidup itu berdiri diatas pilihan bebas, pasti tidak ada yang memilih menjadi orang miskin. Hidup bukan ditentukan oleh pilihan sendiri, tetapi juga digariskan oleh struktur sosial. Kini waktunya orang miskin menyatukan pilihan. Waktunya membangun gerakan bersama. Bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan, melainkan juga merebut ruang keputusan politik yang telah lama hilang, bukan saatnya menjadi ‘budak dan massa’ yang diarahkan terus menerus. Dibantu sekedarnya, tetapi dibiarkan miskin selamanya. Waktunya yang miskin merebut.
Itu merupakan salah satu buku yang sangat inspiratif yang telah diterbitkan oleh Resist Book. Buku-buku terbitan Resist Book terbagi atas beberapa seri, diantaraya adalah seri gerakan sosial, seri melawan globalisasi, seri dilarang miskin, seri revolusi, seri anti militerisme, seri penggagas muda, seri pendidikan kritis, seri idiologi, seri komik, seri anti gaya hidup, dan seri kajian agraria. Melihat seri-seri terbitan Resist Book semakin memperkuat citra Resist Book yang benar-benar berada pada garis perjuangan. Mengapa perjuangan? Tentunya itulah kata yang pantas untuk menggambarkan kiprah Resist Book dalam dunia penerbitan. Begitu sulitnya bertahan dalam posisi demikian. Jika melihat dari segi keuntungan, jelas resist tidak mengalaminya, sebab buku-buku yang banyak diminati oleh pembaca kebanyakan bergenre fiksi. Sedangkan buku-buku bergenre non fiksi sangat kurang diminati. Melihat tingkat ketertarikan yang minim terhadap buku-buku yang diterbitkannya, resist semakin terpuruk dan berjalan terseok-seok. Pihak-pihak pendukung dari luar juga kurang apresiatif. Hanya sekumpulan anak muda yang memutar roda penerbitan dengan slogan: Baca & Lawan saja yang berani berdiri dipinggir jurang dan sewaktu-waktu dapat jatuh jika tidak pintar-pintar mengelola resist.
Sejauh ini resist masih kesulitan dalam mencari naskah yang sesuai dengan spesifikasinya yang benar-benar berada pada ranah pergerakan dan berorientasi pada teks-teks yang membangkitkan kepedulian, simpati, dan keberpihakan pada mereka yang menjadi korban. Karena kembali lagi Resist Book adalah penerbitan yang mengancang pengembangan wacana kritis dan gagasan perlawanan progresif. Sebelum menerbitkan buku, resist mencari naskah terlebih dahulu kemudian naskah dipilah sesuai dengan tema yang sedang hangat dibicarakan atau tema-tema yang booming. Naskah yang sudah terpilih lalu disunting mulai dari menyunting isi, bahasa , dan penyajian. Dan yang terakhir adalah mendesain cover buku yang diinginkan oleh penulis.
Disinilah titik perjuangan sebenarnya. Masalah-masalah yang kritis tetapi sering dilupakan diangkat dan diterbitkan oleh resist, masalah yang sepele dan terlihat kurang menarik, dikemas sedemikian rupa sehingga layak baca oleh resist. Menjadi sebuah lambang perlawanan tidaklah mudah, sekali lagi butuh perjuangan agar tetap eksis dalam dunia penerbitan. Untuk tetap eksis pun tidak semudah membalikkan telapak tangan sama halnya dengan memahami realitas dan bagian keberadaan (eksistensi) itu sendiri.
Pembentukan eksistensi Resist Book yang bisa dikatakan jatuh bangun ini diprakasai oleh sekumpulan pemuda yang mempunyai semangat yang tidak pernah luntur dan selalu ditanamkan. Merekalah yang sebenarnya menjadi roh dari eksistensi Resist Book. Resist yang dulunya adalah bagian dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berwujud Insist Press, kini berhasil melebarkan sayap menjadi badan penerbitan yang berkarakter. Resist baru saja merubah orientasi yang awalnya hanya menerbitkan buku, sekarang menjadi pabrik kata dengan mengadakan pelatihan dan riset-riset. Struktur yang ada dalam tubuh resist terdiri atas struktur internal yaitu admin dan keuangan lalu redaksi dan riset, sedangkan struktur eksternal terdiri atas jaringan dan pengembangan, pemasaran dan distribusi, yang terakhir adalah pencetakan. Dalam jangka waktu satu bulan, Resist biasa menerbitkan satu sampai tiga buku.
Kita sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra indonesia dan kaum akademisi yang selalu berkutat dengan masalah sosial, harus mendukung perjuangan Resist Book karena mahasiswa juga bisa mencanangkan diri sebagai sekumpulan pemuda yang hendak mendorong sebuah tradisi intelektual yang berorientasi pada praksis gerakan.
_Sandra Novita Sari, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNNES
Langganan:
Postingan (Atom)