Dewasa ini banyak penerbit yang bergerak dalam bidang penerbitan sastra. Tetapi resistbook tetap eksis pada bidangnya yaitu penerbitan nonfiksi yang khusus pada tema tertentu seperti tema sosial, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan filsafat.
Keeksisan resist book patut diacungi jempol, sebab pada zaman sekarang sangat sulit menemukan penerbit semacam itu. Seperti halnya ketika mengunjungi penebit ini (20/7) mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang dalam program Kuliah Kerja Lapangan (KKL), mendapati hal yang serupa. Penerbitan yang digawangi oleh wawan selaku bagian redaksi ini sangat keukeuh dalam mempertahankan tradisi intelektual yang berorientasi pada gerakan-gerakan sosial. Penerbitan ini tidak memperhatikan untung rugi ketika menerbitkan sebuah karya.
Resist book sebagai bengkel kata-kata atau lebih tepatnya sering disebut sebagai pengolah naskah mempunyai syarat tersendiri ketika menyeleksi syarat yang masuk. Seperti tema yang diangkat harus aktual, naskah tersebut belum pernah diterbitkan, masalah yang ditulis berkutat pada masalah yang kritis pada sistem yang dominan. Menurut Titis bagian jaringan pengembangan Resist Book, tema yang sering diangkat atau diterbitkan selalu berpihak pada kaum marginal. Hanya selalu kaum-kaum kecil yang disoroti, karena mereka selalu mendapatkan perlakukan yang kurang adil dalam masyarakat.
Salah satu buku yang diterbitkan oleh Resist Book yang mengusung tema sosial dan berpihak pada kaum miskin adalah buku Kaum Miskin Bersatulah karya Eko Prasetyo. Buku ini adalah buku yang paling laris terjual sebanyak 10 ribu exemplar pada tahun 2005, dan mengalami tiga sampai empat kali cetak. Berisi tentang permasalahan kritis yang bertema kemiskinan. Bahwa kemiskinan sepatutnya jadi lambang negeri ini. Mereka bukan hanya berjumlah banyak tapi menyembul kemana-mana. Papan larangan untuk pemulung, pengemis, dan pengamen tersebar disemua tempat. Mereka seperti barang najis yang harus dijauhi. Seolah spesies yang mengancam dan perlu dikurung di tempat tertentu. Padahal kemiskinan bukan salah mereka. Andai hidup itu berdiri diatas pilihan bebas, pasti tidak ada yang memilih menjadi orang miskin. Hidup bukan ditentukan oleh pilihan sendiri, tetapi juga digariskan oleh struktur sosial. Kini waktunya orang miskin menyatukan pilihan. Waktunya membangun gerakan bersama. Bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan, melainkan juga merebut ruang keputusan politik yang telah lama hilang, bukan saatnya menjadi ‘budak dan massa’ yang diarahkan terus menerus. Dibantu sekedarnya, tetapi dibiarkan miskin selamanya. Waktunya yang miskin merebut.
Itu merupakan salah satu buku yang sangat inspiratif yang telah diterbitkan oleh Resist Book. Buku-buku terbitan Resist Book terbagi atas beberapa seri, diantaraya adalah seri gerakan sosial, seri melawan globalisasi, seri dilarang miskin, seri revolusi, seri anti militerisme, seri penggagas muda, seri pendidikan kritis, seri idiologi, seri komik, seri anti gaya hidup, dan seri kajian agraria. Melihat seri-seri terbitan Resist Book semakin memperkuat citra Resist Book yang benar-benar berada pada garis perjuangan. Mengapa perjuangan? Tentunya itulah kata yang pantas untuk menggambarkan kiprah Resist Book dalam dunia penerbitan. Begitu sulitnya bertahan dalam posisi demikian. Jika melihat dari segi keuntungan, jelas resist tidak mengalaminya, sebab buku-buku yang banyak diminati oleh pembaca kebanyakan bergenre fiksi. Sedangkan buku-buku bergenre non fiksi sangat kurang diminati. Melihat tingkat ketertarikan yang minim terhadap buku-buku yang diterbitkannya, resist semakin terpuruk dan berjalan terseok-seok. Pihak-pihak pendukung dari luar juga kurang apresiatif. Hanya sekumpulan anak muda yang memutar roda penerbitan dengan slogan: Baca & Lawan saja yang berani berdiri dipinggir jurang dan sewaktu-waktu dapat jatuh jika tidak pintar-pintar mengelola resist.
Sejauh ini resist masih kesulitan dalam mencari naskah yang sesuai dengan spesifikasinya yang benar-benar berada pada ranah pergerakan dan berorientasi pada teks-teks yang membangkitkan kepedulian, simpati, dan keberpihakan pada mereka yang menjadi korban. Karena kembali lagi Resist Book adalah penerbitan yang mengancang pengembangan wacana kritis dan gagasan perlawanan progresif. Sebelum menerbitkan buku, resist mencari naskah terlebih dahulu kemudian naskah dipilah sesuai dengan tema yang sedang hangat dibicarakan atau tema-tema yang booming. Naskah yang sudah terpilih lalu disunting mulai dari menyunting isi, bahasa , dan penyajian. Dan yang terakhir adalah mendesain cover buku yang diinginkan oleh penulis.
Disinilah titik perjuangan sebenarnya. Masalah-masalah yang kritis tetapi sering dilupakan diangkat dan diterbitkan oleh resist, masalah yang sepele dan terlihat kurang menarik, dikemas sedemikian rupa sehingga layak baca oleh resist. Menjadi sebuah lambang perlawanan tidaklah mudah, sekali lagi butuh perjuangan agar tetap eksis dalam dunia penerbitan. Untuk tetap eksis pun tidak semudah membalikkan telapak tangan sama halnya dengan memahami realitas dan bagian keberadaan (eksistensi) itu sendiri.
Pembentukan eksistensi Resist Book yang bisa dikatakan jatuh bangun ini diprakasai oleh sekumpulan pemuda yang mempunyai semangat yang tidak pernah luntur dan selalu ditanamkan. Merekalah yang sebenarnya menjadi roh dari eksistensi Resist Book. Resist yang dulunya adalah bagian dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berwujud Insist Press, kini berhasil melebarkan sayap menjadi badan penerbitan yang berkarakter. Resist baru saja merubah orientasi yang awalnya hanya menerbitkan buku, sekarang menjadi pabrik kata dengan mengadakan pelatihan dan riset-riset. Struktur yang ada dalam tubuh resist terdiri atas struktur internal yaitu admin dan keuangan lalu redaksi dan riset, sedangkan struktur eksternal terdiri atas jaringan dan pengembangan, pemasaran dan distribusi, yang terakhir adalah pencetakan. Dalam jangka waktu satu bulan, Resist biasa menerbitkan satu sampai tiga buku.
Kita sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra indonesia dan kaum akademisi yang selalu berkutat dengan masalah sosial, harus mendukung perjuangan Resist Book karena mahasiswa juga bisa mencanangkan diri sebagai sekumpulan pemuda yang hendak mendorong sebuah tradisi intelektual yang berorientasi pada praksis gerakan.
_Sandra Novita Sari, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNNES
Kamis, 23 Desember 2010
Minggu, 05 Desember 2010
“MANUSIA BODOH” (Satu kata untukmu yang berani bermain api...maka kau kini terbakar hangus tak tersisa) Oleh: Sandra Noryz
“Bodohnya aku, jika ada orang yang pantas disebut bodoh di dunia ini, maka itulah aku”. Manusia bebal, yang selalu mengutamakan hati bukan logika. Baru sembuh luka yang didapatnya, kini kembali mendapati luka yang serupa dengan tempat yang berbeda. Apa yang harus diperbuatnya kini, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Apa harus menangisi nasib di sudut gelapnya malam, berlari ke luar rumah dengan berteriak seperti orang gila, mengumbar cerita kesana kemari karena berharap kisahnya akan mendapat simpati dari orang-orang terdekat, atau hanya diam di kamar dengan kondisi hati terkoyak. Entahlah, apa ia harus mengalaminya lagi atau beralih mengerjakan sesuatu yang produktif untuk mengusir rasa yang terus menggerogoti hatinya hingga meradang.
Satu kesalahan lagi ia perbuat. Sungguh lancang dan begitu beraninya ia bermain dengan “rasa”. Padahal ia sudah mengecap bagaimana pahitnya. Apa yang kau dapat? Kesenangan apa yang kau raih? Kerelaan apa yang membuatmu untuk mengulangnya? Aku yang melihatnya saja sudah bosan, karena aku sudah sering mengingatkanmu untuk tidak mendekati apalagi sampai merasakan. “Hey...sangat berbahaya, jika sudah terkena kau akan sekarat bahkan mati” begitu aku berkata kepadanya, namun sayang ia tidak mengindahkan ucapanku hingga membuatnya terperosok dalam lubang yang sama.
Menurutku, ia terperangkap dalam koridor masa lalu. Meski aku sangat keras kepadanya, namun aku mengerti apa yang ia inginkan. Ia sangat menderita selama lima tahun terakhir ini. Mempunyai cita setinggi langit, bahkan ia sudah merumuskan masa depannya dengan matang, namun kandas sepeninggal ibunya. Semua berantakan ! Tak hanya peta masa depannya saja yang hancur, ia juga harus mondar-mandir mencari tempat yang bisa menampung segala sampah hati dan logikanya. Karena sosok ibulah yang selama ini menjadi tiang penyangga baginya.
Akhirnya ia menemukannya. Sosok yang bisa menemaninya untuk mengais runtuhan cita yang berserakan. Awalnya ia tak menemukan keyakinan disitu, namun sosok itu selalu menanamkan keyakinan di hatinya. Bahkan ia menjanjikan akan membuatkan sebuah kapal untuk berlayar mengarungi samudera kehidupan bersama. Apa yang terpikirkan olehnya ketika mendapat janji seperti itu. Ia hanya seorang wanita, -iya- wanita biasa tanpa kelebihan yang butuh perlindungan, yang butuh tempat bernaung dari keganasan hidup. Mau tidak mau, ia mulai meyakininya. Waktu berjalan, seiring dengan keyakinan yang semakin membuncah, hingga benar-benar mengakar dihatinya.
Kapal pun mulai berlayar dengan gagah. Ombak laut dilahapnya tanpa sisa. Namun tak lama setelah 3 tahun berlayar, badai dasyat tiba-tiba menerjang hingga akhirnya ‘kapalkami’ (begitu aku menyebutnya) karam. Sama seperti sosok itu, yang menghilang dan meninggalkannya terkatung-katung ditengah laut. Ia nyaris mati, setelah ada kapal yang akhirnya menolongnya. Ya...aku menceritakan kisahnya dengan sedikit bumbu berupa analogi. Sepeninggal sosok itu, ia menemukan sosok yang baru. Aku sudah berkali-kali memberi advis kepadanya, bahwa “jangan kau mengulanginya lagi, jangan berani-berani!”, tapi ia ngeloyor saja. Ia tak patuh kepadaku. Aku mengerti akan keinginan hatinya, aku paham ia ingin hidup seperti orang-orang pada umumnya. Mendapatkan perhatian, perlindungan, kasih sayang dan kenyamanan hidup. Ia berusaha mencari itu selama ini. Percayalah....hanya itu!
Bodohnya ia tidak mempertimbangkan keputusannya. Ia terlalu asyik merasakannya, tanpa tau akhirnya akan menyakitinya lagi. Sebenarnya keinginannya sangatlah sederhana, namun mengapa ia selalu dipermainkan dalam urusan ini. Sungguh malang! Aku tak sanggup melihatnya terpuruk, nyaris sekarat sekarang. Mengapa? Sudah kubilang ia terjebak pada masa lalu. Sosok yang menolongnya ternyata mempunyai kesamaan dg sosok sebelumnya. Sama- sama tak bertanggung jawab. Memberi keyakinan dan harapan lalu meninggalkan begitu saja bagai seogok batu yang tak bermakna.
“Sial...aku tertipu untuk kedua kalinya!” keluhnya. Bisa kukatakan ia tidak beruntung, selalu begitu dan akibatnya ia limbung. Kondisinya sangat payah sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Pergi menemui sosok itu lalu meminta untuk menyembuhkan luka yang ia buat terhadapnya? atau mengecam perbuatannya, lalu menyebarkannya ke orang-orang agar tau seberapa bejatnya dia?. Hemm...aku tak setega itu, aku tidak ingin menambah bebannya, aku tidak ingin membuat ia semakin menderita dengan perbuatanku terhadap sosok itu.
Ia memang manusia bodoh yang pernah kukenal. Dan sama seperti “ia”, sampai saat ini aku belum bisa membaca sosok-sosok itu dengan segala kebijakannya. Hey...kau harus tabah, anggap ini sebuah cobaan sekaligus teguran dari-Nya. Kau tau, dia sangat mencintaimu sehingga tak melupakanmu untuk berperan dalam panggung sandiwara-Nya. Jadikan ini sebagai pengalaman manis sekaligus pahit. Hidup memang seperti ini, penuh dengan teka-teki, yang jelas hidup bukan trial and error. Terimalah apa yang terjadi padamu, ikhlaskanlah apa yang sudah menjadi bagianmu, lalu jalankan peranmu sebaik-baiknya. Satu pesan terakhirku untukmu “manis jangan langsung ditelan, pahit jangan langsung dimuntahkan” wahai manusia bodoh, malang nian nasibmu !!!
Satu kesalahan lagi ia perbuat. Sungguh lancang dan begitu beraninya ia bermain dengan “rasa”. Padahal ia sudah mengecap bagaimana pahitnya. Apa yang kau dapat? Kesenangan apa yang kau raih? Kerelaan apa yang membuatmu untuk mengulangnya? Aku yang melihatnya saja sudah bosan, karena aku sudah sering mengingatkanmu untuk tidak mendekati apalagi sampai merasakan. “Hey...sangat berbahaya, jika sudah terkena kau akan sekarat bahkan mati” begitu aku berkata kepadanya, namun sayang ia tidak mengindahkan ucapanku hingga membuatnya terperosok dalam lubang yang sama.
Menurutku, ia terperangkap dalam koridor masa lalu. Meski aku sangat keras kepadanya, namun aku mengerti apa yang ia inginkan. Ia sangat menderita selama lima tahun terakhir ini. Mempunyai cita setinggi langit, bahkan ia sudah merumuskan masa depannya dengan matang, namun kandas sepeninggal ibunya. Semua berantakan ! Tak hanya peta masa depannya saja yang hancur, ia juga harus mondar-mandir mencari tempat yang bisa menampung segala sampah hati dan logikanya. Karena sosok ibulah yang selama ini menjadi tiang penyangga baginya.
Akhirnya ia menemukannya. Sosok yang bisa menemaninya untuk mengais runtuhan cita yang berserakan. Awalnya ia tak menemukan keyakinan disitu, namun sosok itu selalu menanamkan keyakinan di hatinya. Bahkan ia menjanjikan akan membuatkan sebuah kapal untuk berlayar mengarungi samudera kehidupan bersama. Apa yang terpikirkan olehnya ketika mendapat janji seperti itu. Ia hanya seorang wanita, -iya- wanita biasa tanpa kelebihan yang butuh perlindungan, yang butuh tempat bernaung dari keganasan hidup. Mau tidak mau, ia mulai meyakininya. Waktu berjalan, seiring dengan keyakinan yang semakin membuncah, hingga benar-benar mengakar dihatinya.
Kapal pun mulai berlayar dengan gagah. Ombak laut dilahapnya tanpa sisa. Namun tak lama setelah 3 tahun berlayar, badai dasyat tiba-tiba menerjang hingga akhirnya ‘kapalkami’ (begitu aku menyebutnya) karam. Sama seperti sosok itu, yang menghilang dan meninggalkannya terkatung-katung ditengah laut. Ia nyaris mati, setelah ada kapal yang akhirnya menolongnya. Ya...aku menceritakan kisahnya dengan sedikit bumbu berupa analogi. Sepeninggal sosok itu, ia menemukan sosok yang baru. Aku sudah berkali-kali memberi advis kepadanya, bahwa “jangan kau mengulanginya lagi, jangan berani-berani!”, tapi ia ngeloyor saja. Ia tak patuh kepadaku. Aku mengerti akan keinginan hatinya, aku paham ia ingin hidup seperti orang-orang pada umumnya. Mendapatkan perhatian, perlindungan, kasih sayang dan kenyamanan hidup. Ia berusaha mencari itu selama ini. Percayalah....hanya itu!
Bodohnya ia tidak mempertimbangkan keputusannya. Ia terlalu asyik merasakannya, tanpa tau akhirnya akan menyakitinya lagi. Sebenarnya keinginannya sangatlah sederhana, namun mengapa ia selalu dipermainkan dalam urusan ini. Sungguh malang! Aku tak sanggup melihatnya terpuruk, nyaris sekarat sekarang. Mengapa? Sudah kubilang ia terjebak pada masa lalu. Sosok yang menolongnya ternyata mempunyai kesamaan dg sosok sebelumnya. Sama- sama tak bertanggung jawab. Memberi keyakinan dan harapan lalu meninggalkan begitu saja bagai seogok batu yang tak bermakna.
“Sial...aku tertipu untuk kedua kalinya!” keluhnya. Bisa kukatakan ia tidak beruntung, selalu begitu dan akibatnya ia limbung. Kondisinya sangat payah sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Pergi menemui sosok itu lalu meminta untuk menyembuhkan luka yang ia buat terhadapnya? atau mengecam perbuatannya, lalu menyebarkannya ke orang-orang agar tau seberapa bejatnya dia?. Hemm...aku tak setega itu, aku tidak ingin menambah bebannya, aku tidak ingin membuat ia semakin menderita dengan perbuatanku terhadap sosok itu.
Ia memang manusia bodoh yang pernah kukenal. Dan sama seperti “ia”, sampai saat ini aku belum bisa membaca sosok-sosok itu dengan segala kebijakannya. Hey...kau harus tabah, anggap ini sebuah cobaan sekaligus teguran dari-Nya. Kau tau, dia sangat mencintaimu sehingga tak melupakanmu untuk berperan dalam panggung sandiwara-Nya. Jadikan ini sebagai pengalaman manis sekaligus pahit. Hidup memang seperti ini, penuh dengan teka-teki, yang jelas hidup bukan trial and error. Terimalah apa yang terjadi padamu, ikhlaskanlah apa yang sudah menjadi bagianmu, lalu jalankan peranmu sebaik-baiknya. Satu pesan terakhirku untukmu “manis jangan langsung ditelan, pahit jangan langsung dimuntahkan” wahai manusia bodoh, malang nian nasibmu !!!
Rabu, 01 Desember 2010
Hemmm
KAMAR GELAP
Aku tak paham apa yang kaubicarakan
Sudah kubilang aku tak suka gelap
Nyalakan lampu
Kita akan berbagi segelas sepi
Di kamar yang pengap dan berdebu ini
Buku-buku di tubuhmu
Yang selalu minta dibaca
Tapi kau bisu
Gelap membuatmu malas bicara
Maka ku tak tau lagakmu
Agar kau tak menutup mulut
Tapi mata jadi begitu ragu
Mungkin aku lupa menutup pintu
AMNESIA
Berapa simpanan kesombongan dalam lemarimu?
Atau kau telah menggantinya dengan cerita-cerita palsu,
Angka-angka dikepalamu,
Atau keindahan yang pernah kau curi haknya dari hatimu
Seberapa kuatkah engkau?
Lebih kuat mana dengan kematian
Kau sendiri tak tahu
Jam berapa udara akan pamit dari jasadmu.
JAGAD
Jagad melambat
Ketika detak jam meningggalkan tubuhmu sore itu
Kau tangkap pesanmu yang tak sampai di langit
Sementara bumi menguburmu ketempat jauh
Kau lupa dengan larumu
Yang pergi ketika senja mengecat luka di hatimu
Aku tak paham apa yang kaubicarakan
Sudah kubilang aku tak suka gelap
Nyalakan lampu
Kita akan berbagi segelas sepi
Di kamar yang pengap dan berdebu ini
Buku-buku di tubuhmu
Yang selalu minta dibaca
Tapi kau bisu
Gelap membuatmu malas bicara
Maka ku tak tau lagakmu
Agar kau tak menutup mulut
Tapi mata jadi begitu ragu
Mungkin aku lupa menutup pintu
AMNESIA
Berapa simpanan kesombongan dalam lemarimu?
Atau kau telah menggantinya dengan cerita-cerita palsu,
Angka-angka dikepalamu,
Atau keindahan yang pernah kau curi haknya dari hatimu
Seberapa kuatkah engkau?
Lebih kuat mana dengan kematian
Kau sendiri tak tahu
Jam berapa udara akan pamit dari jasadmu.
JAGAD
Jagad melambat
Ketika detak jam meningggalkan tubuhmu sore itu
Kau tangkap pesanmu yang tak sampai di langit
Sementara bumi menguburmu ketempat jauh
Kau lupa dengan larumu
Yang pergi ketika senja mengecat luka di hatimu
Rabu, 03 November 2010
Refleksi Yang Abstrak-ku Oleh : Sandra Noryz
Gomenkudasai…..
Salam hangat menguar dari tempat tinggalku. Tempat tinggal yang kusebut sebagai gubuk perasaan. Perasaan yang menyembul dan kadang menenggelamkan diri. Diri yang aku sendiri mengalphakan eksistensinya. Tapi aku PERCAYA…..
Aku menulis ini dengan pena yang lain di hatiku. Pena yang tanpa lelah membimbingku menjadi manusia. Pena yang selama ini aku mencari impian bersamanya. Pena yang telah memborehiku dengan semangat-semangat kecil tapi dinamis. Ya! Kami seperti “aku” nyaris tanpa selisih. Membercaki lembaran hitam dengan tinta manis. Yang jelas aku seperti berjalan di udara. Berenang-renang di atasnya tanpa alas pun cakrawala. Si Dina mencari Cuma tiang-tiang berpegangan. Dia manusia riskan, itu sebabnya selalu ikhtiyat dalam ambil keputusan.
[Ini malam salaksa perenungan…bulan secepatnya berjingkat dari desing kericuhan. Sepertinya aku belum mampu busungkan dada, dedahkan kenyataan sebenarnya] bahwa:
Sastra adalah mimpiku. Aku selalu merasa mimpi adalah duniaku yang kedua. Hingga kadang tak mampu bedakan hati dan logika. Hati ibarat peta dan logika adalah senternya. Itu sebabnya mereka saling membutuhkan. Mereka dicipta untuk bersama, tetapi mengapa mencuatkan kontradiksi yang hebat???
Hemm…sungguh pun pelik aku mengalirkannya dengan caraku kontemplasi, membangun konstruksi. Nah dalam “Chaos In Feel” itu, aku menemukan kebijaksanaan yang dewasa dari para penyair lewat puisi-puisi dan imajinasi nyata mereka. Dan sastrawan yang mendewasaan itu adalah Soe Hok Gie dan Gusmus. Hidup adalah pilihan dan aku harus memilih untuk hidup {Realisasikanlah}.
Aku berharap bisa mengartikulasikan semua-mua. Berita tentang hati, tentang bintang-bintang yang acap merisauku, tentang malam-malam yang buatku biru, tentang angin yang tak henti-hentinya menderu, juga “drama kecil” yang setiap harinya terdengar sendu. Tak sadar…semuanya menjadi sedemikian kental bagiku. Serupa konstruksi baru, aku mau memetakan semua itu. Tak mau mengahambar laiknya kehidupan yang kuyu.
Sungguh pun aku telah mengalami kekalahan yang paling dramatis sepanjang sejarah (tapi…sekaligus kemenangan yang tak terperi indahnya).
La’allahu ma’ana!!!
Sebuah semangat merdeka. Ghiroh memberontak. Kidung rumah Tuhan sedari tadi berteriak. Di depan. Dokumentasi sejarah baru akan dicetak. Tak ada spasi lagi. Terlalu banyak pembunuhan hak asasi. Butuh keberanian dan tindakan……Acchh prolog yang abstrak.
[Bulan secepatnya mengendap di bebalik samudra malam. Tapi aku masih mampu mengintipnya lewat celah-celah kasih yang terjurai indah, lewat angina sepoi yang berdesir manja, lewat folikel-folikel hati yang berkecipak asa, juga lewat cahaya ini yang sedari tadi terpancang di palung hati].
Aku ingin menulis sesuatu: Bagaimana mendatangkan wacana yang sungguh sulit alih-alih dipecahkan. Merabapun tanganku terasa maya untuk sejenak merasai keberadaannya. Kadang aku bertanya apa ia memang seharusnya ada, atau Cuma dikadali rekaan maya, ilusi berkemas nyata. Entahlah!!!
Kadang imajinasi liarku muncul. Aku ingin seperti “Robert Langdon”nya Dan Brown. Atau “Aku”nya Emha Ainin Najib. Atau Naruto juga boleh. Apapunlah, yang penting aku serupa kriptolog dan petualang yang punya kekuatan terpendam dalam memecahkan kode-kode rumit perasaan. Aku ingin menguliti kekuatan seperti apa yang berhasil buatku kelimpungan sampai masuk pada stadium I ini. Aku ingin menguak mengapa ia meng-ada dan berhulu ledak luar biasa…
Saat aku menulis ini, matari (begitu Pramudya menyebutnya) serupa miniature perasaanku. Meski pagi, matanya sembab seperti hendak menitikkan air rasa. Meski jauh, kami seolah samudra kembar – Aku melihatmu di sini, di pikiranku sejak tadi. Dasar pagi!!!Selalu saja ada surprise tiap hari. Tak ada teman kontemplasi setelah malam-sebaikmu.
“Biarkan keyakinanmu, 5 cm menggantung mengambang di depan keningmu. Dan…sehabis itu yang kamu perlu Cuma…Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih banyak dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas……lapisan tekat yang seribu kali lebih keras dari baja……Dan hati yang akan bekerja keras dari biasanya, serta mulut yang akan berdoa…”(Dirganthoro, Donny. 5 cm).
“Kamar Paling Sepi Di Dunia”
“Salam sabar semoga selalu selalu dipancangkan ke dalam hati”
Yakinlah……Tuhan akan menjelma seperti apa fikirmu. Jika rasamu baik dan positif thinking, Dia akan menjelma sangat baik. Jika “ingin”mu kurang baik dan su’udzon, pastilah kau dapati wajah Tuhan sangat jahat. Sayang sekali, Tuhan tak ada kecuali Maha segala kebaikan.
Saat ini aku sangat tergila-gila dengan konsep “yakin”. Gusmus mediatornya. Lewat permainan filosofi kata-katanya. Katanya: secara hakiki manusia punya internal power berupa keyakinan. Ia akan sangatberkontribusi dalam hidup. Kau ingat betapa Rabi’ah Al-Adawiyah (seorang sufi) luar biasa yakin dengan keyakinannya, sehingga suatu saat ketika ada dua orang bertamu di rumahnya, dia hanya mendapati dua potong roti untuk disajikan. Begitu hendak diberikan, ia melihat pengemis, lalu tergerak hatinya untuk diberikanlah roti itu kedua-duanya. Dlam kondisi tak punya apa-apa, ia yakin kalau Tuhan akan mengganti 10x lipat roti-rotinya. Subhanallah…… tak lama setelah itu ada pengantar roti yang mengantar roti kepada Rabi’ah. Ketika ditanya dari mana roti itu, si pengantar menjawab dari “majikan” saya. Roti itu ada 18 buah. Tak pelak Rabi’ah langsung menemui sang manjikan. Bukan untuk apa-apa, tapi meminta 2 roti lagi yang ia sangat yakin Tuhan akan mengganti roti-rotinya sebanyak 10x lipat, bukan 9x lipat. Ternyata benar masih ada 2 yang belum diberikan. “Sengaja”. Subhanallah!
Belum lagi tentang Kang Abu bakar yang mentashaufkan hartanya di jalan Allah dengan selangit keyakinan bahwa Tuhan akan menggantinya berlebih. Bahkan Gusmus pernah berkata “Thoma’ pada manusia itu haram, tapi Thoma’ pada Allah itu wajib, disertai keyakinan”. Jadi mari sama-sama latihan yakin yuk! Yakin…pasti Tuhan punya Rencana seribu kali indah untukmu jika kau meyakininya1
“Bercerita adalah sungai yang senantiasa mengalir, jangan biarkan ia membendungmu, menahan semua redaksi perasaan”.
Salah satu mediatornya adalah orang tua. Aku akan mengambil abstraksi dari kisahku;
Ayahku yang bekerja jauh di sana itu tak bukan untuk dekat denganku. Yang beliau fikirkan cuma satu. Bagaimana putrinya bahagia dan bisa mendapatkan pendidikan dengan layak. Aku yakin secara naluriah beliau ingin sekali setiap hari dekat dengan putra-putrinya. Bermain bersama, tertawa, menangis, menatap hari-hari yang tak jelas kejelasannya……sungguh manusiawi! Tuhan tidak membuat sesuatu dengan sia-sia, termasuk memanggil ibundaku. Pasti ada “kado istimewa” kelak (aku berbicara seolah-olah mengenal Tuhan. Percayalah aku juga sedang berteriak-teriak mencari-Nya).
Hari itu, hari dimana ibu membercaki tangannya dengan tinta yang terakhir sebelum berangkat rekreasi ke alam Barzah. Aku mendapati suratnya! “surat” yang baru kali ini aku menerimanya. Surat dari malaikat yang kedua tangannya telah meng”aku”kan aku. Surat yang sarat denga cinta. Surat yang karya sastra terbaik yang pernah kubaca. Surat yang sekarang aku letakkan di dinding tempat tidurku. Aku ingin ketika bagun, taushiyah ibu’lah yang kulihat pertama. Semoga Tuhan memberi selalu kemuliaan bagi mereka yang kucintai. Amin…
Aku menulis ini atas dasar kecenderungan. Dari dulu itulah aku. Kecenderungan yang terkadang dipicu oleh cahaya orang lain. Tapi orang lain itu…bukanlah satu-satunya pemilik cahaya serupa. Karena “Bahasa Lahir dari Peta Batin Penulisnya”. Seperti sebuah statement:
Salam perjuangan menuju manusia yang sebenarnya…
Salam metamorphosa…
Salam anti komersialisasi pendidikan…
Itu hanya sebagian kecil proses “Bahasa Lahir yang menuju Peta Batin”.
Secara lahiriah coretanku ini tak bermakna, maka resapilah secara batiniah dan intuisi sastra + imajinasi yang melangit…..agar tidak menjadi sebuah Intermezo yang tak bermakna..
Barokallohu lana’!!!
“Surga Baru Peradaban”
Salam hangat menguar dari tempat tinggalku. Tempat tinggal yang kusebut sebagai gubuk perasaan. Perasaan yang menyembul dan kadang menenggelamkan diri. Diri yang aku sendiri mengalphakan eksistensinya. Tapi aku PERCAYA…..
Aku menulis ini dengan pena yang lain di hatiku. Pena yang tanpa lelah membimbingku menjadi manusia. Pena yang selama ini aku mencari impian bersamanya. Pena yang telah memborehiku dengan semangat-semangat kecil tapi dinamis. Ya! Kami seperti “aku” nyaris tanpa selisih. Membercaki lembaran hitam dengan tinta manis. Yang jelas aku seperti berjalan di udara. Berenang-renang di atasnya tanpa alas pun cakrawala. Si Dina mencari Cuma tiang-tiang berpegangan. Dia manusia riskan, itu sebabnya selalu ikhtiyat dalam ambil keputusan.
[Ini malam salaksa perenungan…bulan secepatnya berjingkat dari desing kericuhan. Sepertinya aku belum mampu busungkan dada, dedahkan kenyataan sebenarnya] bahwa:
Sastra adalah mimpiku. Aku selalu merasa mimpi adalah duniaku yang kedua. Hingga kadang tak mampu bedakan hati dan logika. Hati ibarat peta dan logika adalah senternya. Itu sebabnya mereka saling membutuhkan. Mereka dicipta untuk bersama, tetapi mengapa mencuatkan kontradiksi yang hebat???
Hemm…sungguh pun pelik aku mengalirkannya dengan caraku kontemplasi, membangun konstruksi. Nah dalam “Chaos In Feel” itu, aku menemukan kebijaksanaan yang dewasa dari para penyair lewat puisi-puisi dan imajinasi nyata mereka. Dan sastrawan yang mendewasaan itu adalah Soe Hok Gie dan Gusmus. Hidup adalah pilihan dan aku harus memilih untuk hidup {Realisasikanlah}.
Aku berharap bisa mengartikulasikan semua-mua. Berita tentang hati, tentang bintang-bintang yang acap merisauku, tentang malam-malam yang buatku biru, tentang angin yang tak henti-hentinya menderu, juga “drama kecil” yang setiap harinya terdengar sendu. Tak sadar…semuanya menjadi sedemikian kental bagiku. Serupa konstruksi baru, aku mau memetakan semua itu. Tak mau mengahambar laiknya kehidupan yang kuyu.
Sungguh pun aku telah mengalami kekalahan yang paling dramatis sepanjang sejarah (tapi…sekaligus kemenangan yang tak terperi indahnya).
La’allahu ma’ana!!!
Sebuah semangat merdeka. Ghiroh memberontak. Kidung rumah Tuhan sedari tadi berteriak. Di depan. Dokumentasi sejarah baru akan dicetak. Tak ada spasi lagi. Terlalu banyak pembunuhan hak asasi. Butuh keberanian dan tindakan……Acchh prolog yang abstrak.
[Bulan secepatnya mengendap di bebalik samudra malam. Tapi aku masih mampu mengintipnya lewat celah-celah kasih yang terjurai indah, lewat angina sepoi yang berdesir manja, lewat folikel-folikel hati yang berkecipak asa, juga lewat cahaya ini yang sedari tadi terpancang di palung hati].
Aku ingin menulis sesuatu: Bagaimana mendatangkan wacana yang sungguh sulit alih-alih dipecahkan. Merabapun tanganku terasa maya untuk sejenak merasai keberadaannya. Kadang aku bertanya apa ia memang seharusnya ada, atau Cuma dikadali rekaan maya, ilusi berkemas nyata. Entahlah!!!
Kadang imajinasi liarku muncul. Aku ingin seperti “Robert Langdon”nya Dan Brown. Atau “Aku”nya Emha Ainin Najib. Atau Naruto juga boleh. Apapunlah, yang penting aku serupa kriptolog dan petualang yang punya kekuatan terpendam dalam memecahkan kode-kode rumit perasaan. Aku ingin menguliti kekuatan seperti apa yang berhasil buatku kelimpungan sampai masuk pada stadium I ini. Aku ingin menguak mengapa ia meng-ada dan berhulu ledak luar biasa…
Saat aku menulis ini, matari (begitu Pramudya menyebutnya) serupa miniature perasaanku. Meski pagi, matanya sembab seperti hendak menitikkan air rasa. Meski jauh, kami seolah samudra kembar – Aku melihatmu di sini, di pikiranku sejak tadi. Dasar pagi!!!Selalu saja ada surprise tiap hari. Tak ada teman kontemplasi setelah malam-sebaikmu.
“Biarkan keyakinanmu, 5 cm menggantung mengambang di depan keningmu. Dan…sehabis itu yang kamu perlu Cuma…Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih banyak dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas……lapisan tekat yang seribu kali lebih keras dari baja……Dan hati yang akan bekerja keras dari biasanya, serta mulut yang akan berdoa…”(Dirganthoro, Donny. 5 cm).
“Kamar Paling Sepi Di Dunia”
“Salam sabar semoga selalu selalu dipancangkan ke dalam hati”
Yakinlah……Tuhan akan menjelma seperti apa fikirmu. Jika rasamu baik dan positif thinking, Dia akan menjelma sangat baik. Jika “ingin”mu kurang baik dan su’udzon, pastilah kau dapati wajah Tuhan sangat jahat. Sayang sekali, Tuhan tak ada kecuali Maha segala kebaikan.
Saat ini aku sangat tergila-gila dengan konsep “yakin”. Gusmus mediatornya. Lewat permainan filosofi kata-katanya. Katanya: secara hakiki manusia punya internal power berupa keyakinan. Ia akan sangatberkontribusi dalam hidup. Kau ingat betapa Rabi’ah Al-Adawiyah (seorang sufi) luar biasa yakin dengan keyakinannya, sehingga suatu saat ketika ada dua orang bertamu di rumahnya, dia hanya mendapati dua potong roti untuk disajikan. Begitu hendak diberikan, ia melihat pengemis, lalu tergerak hatinya untuk diberikanlah roti itu kedua-duanya. Dlam kondisi tak punya apa-apa, ia yakin kalau Tuhan akan mengganti 10x lipat roti-rotinya. Subhanallah…… tak lama setelah itu ada pengantar roti yang mengantar roti kepada Rabi’ah. Ketika ditanya dari mana roti itu, si pengantar menjawab dari “majikan” saya. Roti itu ada 18 buah. Tak pelak Rabi’ah langsung menemui sang manjikan. Bukan untuk apa-apa, tapi meminta 2 roti lagi yang ia sangat yakin Tuhan akan mengganti roti-rotinya sebanyak 10x lipat, bukan 9x lipat. Ternyata benar masih ada 2 yang belum diberikan. “Sengaja”. Subhanallah!
Belum lagi tentang Kang Abu bakar yang mentashaufkan hartanya di jalan Allah dengan selangit keyakinan bahwa Tuhan akan menggantinya berlebih. Bahkan Gusmus pernah berkata “Thoma’ pada manusia itu haram, tapi Thoma’ pada Allah itu wajib, disertai keyakinan”. Jadi mari sama-sama latihan yakin yuk! Yakin…pasti Tuhan punya Rencana seribu kali indah untukmu jika kau meyakininya1
“Bercerita adalah sungai yang senantiasa mengalir, jangan biarkan ia membendungmu, menahan semua redaksi perasaan”.
Salah satu mediatornya adalah orang tua. Aku akan mengambil abstraksi dari kisahku;
Ayahku yang bekerja jauh di sana itu tak bukan untuk dekat denganku. Yang beliau fikirkan cuma satu. Bagaimana putrinya bahagia dan bisa mendapatkan pendidikan dengan layak. Aku yakin secara naluriah beliau ingin sekali setiap hari dekat dengan putra-putrinya. Bermain bersama, tertawa, menangis, menatap hari-hari yang tak jelas kejelasannya……sungguh manusiawi! Tuhan tidak membuat sesuatu dengan sia-sia, termasuk memanggil ibundaku. Pasti ada “kado istimewa” kelak (aku berbicara seolah-olah mengenal Tuhan. Percayalah aku juga sedang berteriak-teriak mencari-Nya).
Hari itu, hari dimana ibu membercaki tangannya dengan tinta yang terakhir sebelum berangkat rekreasi ke alam Barzah. Aku mendapati suratnya! “surat” yang baru kali ini aku menerimanya. Surat dari malaikat yang kedua tangannya telah meng”aku”kan aku. Surat yang sarat denga cinta. Surat yang karya sastra terbaik yang pernah kubaca. Surat yang sekarang aku letakkan di dinding tempat tidurku. Aku ingin ketika bagun, taushiyah ibu’lah yang kulihat pertama. Semoga Tuhan memberi selalu kemuliaan bagi mereka yang kucintai. Amin…
Aku menulis ini atas dasar kecenderungan. Dari dulu itulah aku. Kecenderungan yang terkadang dipicu oleh cahaya orang lain. Tapi orang lain itu…bukanlah satu-satunya pemilik cahaya serupa. Karena “Bahasa Lahir dari Peta Batin Penulisnya”. Seperti sebuah statement:
Salam perjuangan menuju manusia yang sebenarnya…
Salam metamorphosa…
Salam anti komersialisasi pendidikan…
Itu hanya sebagian kecil proses “Bahasa Lahir yang menuju Peta Batin”.
Secara lahiriah coretanku ini tak bermakna, maka resapilah secara batiniah dan intuisi sastra + imajinasi yang melangit…..agar tidak menjadi sebuah Intermezo yang tak bermakna..
Barokallohu lana’!!!
“Surga Baru Peradaban”
Minggu, 31 Oktober 2010
RESENSI BUKU: "Menyatukan Tiga Kepingan Bonang",
Judul : BONANG
Pengarang : Surahmat
Penerbit : Cipta Prima Nusantara
Tahun : 2009
Kota : Semarang
Tebal Halaman : 312
KENISCAYAAN dalam dunia literer, khususnya sastra, adalah pembagian tugas antara penulis dan pembaca. Pembaca bertugas mengkonstruksikan makna, setelah penulis selesai menyelesaikan tugas menghamburkannya. Relasi penulis dan pembaca dalam novel berjudul Bonang juga demikian. Sejumlah makna disajikan penulis secara berserakan, dan menuntut ketelatenan pembaca untuk merangkainya.
Novel Bonang bercerita tentang sebuah keluatga kecil yang bertahan hidup di tengah kemarau panjang pertengahan tahun 60-an. Empat anak dalam keluarga ini diberi nama persis dengan gamelan. Si sulung bernama Kendang, adiknya bernama Saron, Bonang, dan Gambang. Sejatinya, kepala keluarga ini mengidamkan lahirnya seorang bocah laki-laki lagi agar kemudian diberi nama Bagong dan Gong.
Meski hidup di desa, keluarga ini tak bisa menghindar ketika kisruh politik tahun 1965 mengemuka. Bahkan akibatnya dirasakan keluarga ini demikian parah, hingga pada akhirnya membuatnya berantakan.
Tiga Perspektif
Cerita pokok yang diungkap penulis dalam novel ini mencakup tiga aspek kehidupan, yakni agama, sosial, dan budaya. Semuanya tersusun secara resiprokal menjadi bagian yang saling menyokong. Fakta-fakta sosial diungkapkan melalui pendekatan budaya dan agama.
Pada aspek keagamaan penulis agaknya bersungguh-sungguh memberikan penekanan. Meski berusaha menghindari cap sebagai novel religius, konflik agama muncul dalam porsi yang dominan. Tidak semata-mata konflik antara penganut Islam dan golongan atheis, tapi juga hamba kepada Tuhan-nya. Sebab dalam konsep beragama yang berkembang masa itu, hubungan hamba dan Tuhan adalah pokok ajaran beragama.
Dominasi persoalan agama tidak hanya muncul menghiasi tarik ulur cerita. Sejak awal, bahkan melalui pengantarnya yang singkat, penulis menekankan ada masalah serius dalam kehidupan masyarakat beragama kita. Keimanan yang setengah-setengah pada akhirnya tidak akan membawa pencerahan. Keragu-raguan seorang pemeluk agama justru akan menjadi dilema, untuk tidak percaya atau iman secara total.
Tampaknya persoalan agama sengaja dimunculkan penulis sebagai satire terhadap kehidupan agama dewasa ini. Buktinya, meski diungkap dalam kerangka setting 60-an persoalan tersebut ternyata sangat mutakhir. Problem keyakinan masih bisa dijumpai saat ini, bahkan disekitar kita. Penyakit ragu-ragu dan mang-mang dalam beragama bisa jadi juga diidap oleh keluarga atau saudara-saudara kita.
Setelah persoalan agama, aspek yang mendapat porsi besar penceritaan adalah masalah sosial politik. Novel ini menuturkan secara detail bahwa kemiskinan memang bisa menjadi sumber persoalan. Tak hanya masalah keluarga, kemiskinan bisa memicu konflik antar kelas.
Bagi korban sekaligus pelaku, kemiskinan adalah bencana yang amat mengerikan. Karena dari situlah bencana-bencana yang lain kemudian muncul. Kemiskinanlah yang pada akhirnya merubah perangai manusia yang penuh budi menjadi makhluk beringas tanpa batas. Berawal dari kemiskinan seluruh potensi kriminal bermunculan.
Berlawanan dengan korban, bagi masyarakat kelas atas kemiskinan adalah kesempatan. Jika dikelola dengan baik, kemiskinan adalah sumber kekuatan yang luar biasa besar. Sebab, golongan miskin (yang sekaligus tidak cerdas) dapat digerakkan untuk komoditas tertentu. Mereka direkrut menjadi sukarelawan pergerakan atau anggota partai demi kekuatan politik tertentu.
Persoalan agama dan kemiskinan ternyata tidak cukup untuk meletakkan cerita dalam novel ini menjadi kerangka masalah yang utuh. Agar mampu melihat persoalan secara komprehensif diperlukan pemahaman budaya. Perspektif ini diperlukan mengingat tokoh dalam novel ini adalah kaum Jawa tanpa pemahami aspek budayanya tentu akan nihil.
Pembaca yang pemahaman budayanya kosong tentu akan sangat geram menyimak laku tokoh Ibu dalam cerita ini. Ia sudah tahu bahwa suaminya berselingkuh, tapi masih mencium tangan saat suaminya pulang. Ia tahu bahwa suaminya pernah meninggalkannya, tapi masih merawatnya ketika sakit. Bahkan dengan sigap ia memberanikan diri menjadi tulang punggung keluarga ketika sang suami sakit.
Sikap ini bisa dipahami dari perspektif Jawa. Sebab sang istri (garwa) dalam entitas kebudayaan Jawa adalah sigaring nyata, tindakan ini menjadi nalar. Bahkan sudah biasa. Di balik sikap sumeleh-nya, perempuan Jawa selalu bersikap cuncut tali wanda, yang dalam konsepsi Jawa diartikan sebagai tindakan siap bertanggung jawab mengambil alih komando keluarga.
Cerita Bonang sangat mengagumkan. Penulis, yang tak lain adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNNES, memasukkan nilai edukasi dan history yang dikemas dalam bentuk cerita sehingga pembaca tidak merasa bahwa ia baru saja belajar tentang sejarah yaitu peristiwa G/30/S/PKI. Cerita yang menggunakan alur sorot balik ini begitu menggoda, penggunaan bahasa yang mudah dimengerti serta cerita yang tidak bertele-tele membuat pembaca tidak merasa jenuh, dan penulis berhasil menciptakan rasa penasaran kepada pembaca untuk segera menyelesaikan membaca buku ini. Sangat luar biasa, buku pendobrak peradaban.
Sayangnya, cerita yang bagus ini tidak diimbangi dengan editing yang baik pula. Sayang sekali buku ini masih banyak kesalahan dalam pengejaan dan terdapat halaman yang sama. Blunder yang fatal.
_Sandra Novita Sari, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNNES
Pengarang : Surahmat
Penerbit : Cipta Prima Nusantara
Tahun : 2009
Kota : Semarang
Tebal Halaman : 312
KENISCAYAAN dalam dunia literer, khususnya sastra, adalah pembagian tugas antara penulis dan pembaca. Pembaca bertugas mengkonstruksikan makna, setelah penulis selesai menyelesaikan tugas menghamburkannya. Relasi penulis dan pembaca dalam novel berjudul Bonang juga demikian. Sejumlah makna disajikan penulis secara berserakan, dan menuntut ketelatenan pembaca untuk merangkainya.
Novel Bonang bercerita tentang sebuah keluatga kecil yang bertahan hidup di tengah kemarau panjang pertengahan tahun 60-an. Empat anak dalam keluarga ini diberi nama persis dengan gamelan. Si sulung bernama Kendang, adiknya bernama Saron, Bonang, dan Gambang. Sejatinya, kepala keluarga ini mengidamkan lahirnya seorang bocah laki-laki lagi agar kemudian diberi nama Bagong dan Gong.
Meski hidup di desa, keluarga ini tak bisa menghindar ketika kisruh politik tahun 1965 mengemuka. Bahkan akibatnya dirasakan keluarga ini demikian parah, hingga pada akhirnya membuatnya berantakan.
Tiga Perspektif
Cerita pokok yang diungkap penulis dalam novel ini mencakup tiga aspek kehidupan, yakni agama, sosial, dan budaya. Semuanya tersusun secara resiprokal menjadi bagian yang saling menyokong. Fakta-fakta sosial diungkapkan melalui pendekatan budaya dan agama.
Pada aspek keagamaan penulis agaknya bersungguh-sungguh memberikan penekanan. Meski berusaha menghindari cap sebagai novel religius, konflik agama muncul dalam porsi yang dominan. Tidak semata-mata konflik antara penganut Islam dan golongan atheis, tapi juga hamba kepada Tuhan-nya. Sebab dalam konsep beragama yang berkembang masa itu, hubungan hamba dan Tuhan adalah pokok ajaran beragama.
Dominasi persoalan agama tidak hanya muncul menghiasi tarik ulur cerita. Sejak awal, bahkan melalui pengantarnya yang singkat, penulis menekankan ada masalah serius dalam kehidupan masyarakat beragama kita. Keimanan yang setengah-setengah pada akhirnya tidak akan membawa pencerahan. Keragu-raguan seorang pemeluk agama justru akan menjadi dilema, untuk tidak percaya atau iman secara total.
Tampaknya persoalan agama sengaja dimunculkan penulis sebagai satire terhadap kehidupan agama dewasa ini. Buktinya, meski diungkap dalam kerangka setting 60-an persoalan tersebut ternyata sangat mutakhir. Problem keyakinan masih bisa dijumpai saat ini, bahkan disekitar kita. Penyakit ragu-ragu dan mang-mang dalam beragama bisa jadi juga diidap oleh keluarga atau saudara-saudara kita.
Setelah persoalan agama, aspek yang mendapat porsi besar penceritaan adalah masalah sosial politik. Novel ini menuturkan secara detail bahwa kemiskinan memang bisa menjadi sumber persoalan. Tak hanya masalah keluarga, kemiskinan bisa memicu konflik antar kelas.
Bagi korban sekaligus pelaku, kemiskinan adalah bencana yang amat mengerikan. Karena dari situlah bencana-bencana yang lain kemudian muncul. Kemiskinanlah yang pada akhirnya merubah perangai manusia yang penuh budi menjadi makhluk beringas tanpa batas. Berawal dari kemiskinan seluruh potensi kriminal bermunculan.
Berlawanan dengan korban, bagi masyarakat kelas atas kemiskinan adalah kesempatan. Jika dikelola dengan baik, kemiskinan adalah sumber kekuatan yang luar biasa besar. Sebab, golongan miskin (yang sekaligus tidak cerdas) dapat digerakkan untuk komoditas tertentu. Mereka direkrut menjadi sukarelawan pergerakan atau anggota partai demi kekuatan politik tertentu.
Persoalan agama dan kemiskinan ternyata tidak cukup untuk meletakkan cerita dalam novel ini menjadi kerangka masalah yang utuh. Agar mampu melihat persoalan secara komprehensif diperlukan pemahaman budaya. Perspektif ini diperlukan mengingat tokoh dalam novel ini adalah kaum Jawa tanpa pemahami aspek budayanya tentu akan nihil.
Pembaca yang pemahaman budayanya kosong tentu akan sangat geram menyimak laku tokoh Ibu dalam cerita ini. Ia sudah tahu bahwa suaminya berselingkuh, tapi masih mencium tangan saat suaminya pulang. Ia tahu bahwa suaminya pernah meninggalkannya, tapi masih merawatnya ketika sakit. Bahkan dengan sigap ia memberanikan diri menjadi tulang punggung keluarga ketika sang suami sakit.
Sikap ini bisa dipahami dari perspektif Jawa. Sebab sang istri (garwa) dalam entitas kebudayaan Jawa adalah sigaring nyata, tindakan ini menjadi nalar. Bahkan sudah biasa. Di balik sikap sumeleh-nya, perempuan Jawa selalu bersikap cuncut tali wanda, yang dalam konsepsi Jawa diartikan sebagai tindakan siap bertanggung jawab mengambil alih komando keluarga.
Cerita Bonang sangat mengagumkan. Penulis, yang tak lain adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNNES, memasukkan nilai edukasi dan history yang dikemas dalam bentuk cerita sehingga pembaca tidak merasa bahwa ia baru saja belajar tentang sejarah yaitu peristiwa G/30/S/PKI. Cerita yang menggunakan alur sorot balik ini begitu menggoda, penggunaan bahasa yang mudah dimengerti serta cerita yang tidak bertele-tele membuat pembaca tidak merasa jenuh, dan penulis berhasil menciptakan rasa penasaran kepada pembaca untuk segera menyelesaikan membaca buku ini. Sangat luar biasa, buku pendobrak peradaban.
Sayangnya, cerita yang bagus ini tidak diimbangi dengan editing yang baik pula. Sayang sekali buku ini masih banyak kesalahan dalam pengejaan dan terdapat halaman yang sama. Blunder yang fatal.
_Sandra Novita Sari, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNNES
Jumat, 29 Oktober 2010
Rumah “ITU” (Sebuah Refleksi) Oleh: Sandra Noryz*)
Rumah yang kemarin baru saja selesai dibangun dan mulai ditempati, kini tiba-tiba senyap.Ruangan di dalamnya mulai berdebu dan pengap karena jendela-jendela tempat masuknya angin sudah tertutup, pintunya pun terkunci rapat. Kemana gerangan pemilik rumah itu. Baru saja kemarin ada orang yang ingin menyambangi, dan berencana tinggal menetap di sana. Biasanya rumah itu sarat dengan suasana nyaman pun tenang. Jika pagi cahaya matahari bebas masuk dan keluar sesuka hatinya. Malam hari pun lampu akan menari dan tersenyum ramah kepada setiap mata yang melihat kearahnya. Tapi mengapa sekarang rumah itu dingin? Kemana dia? Sang pemilik rumah yang tiba-tiba menghilang meninggalkan rumah yang payah ia bangun selama beberapa bulan terakhir ini. Benar-benar aneh, rumah itu nyaris sempurna meski belum terisi oleh perkakas rumah tangga.
Rumah yang sebagian besar dindingnya terbuat dari kaca itu, nampak indah jika ada cahaya yang memantul dipermukaan kaca, membuat kesan bahwa rumah itu benar-benar indah dan megah. Kenyataan itu bertolak belakang dengan pemiliknya, yang sederhana. Seorang pemuda yang sangat “khas” kataku. Rumah yang tengah berdiri itu tak pelak mengundang seorang peneliti. Peneliti yang penasaran karena keunikan bangunannya. Hingga suatu saat sang peneliti bertandang ke rumah itu, tetapi sayang pintu rumah tak menerimanya. Hari selanjutnya ia datang lagi, tetapi ia hanya mendapati hal yang sama, lalu ia datang dan datang lagi, nyaris tiap hari ia datang tapi tak ada hasil, sehingga ia memutuskan untuk tetap berdiam di depan rumah sampai pintu rumah terbuka dan tuan rumah mempersilahkan ia masuk dan bertanya tentang maksud kedatangannya.
Gayung pun bersambut, pintu kaca terbuka sang peneliti masuk bersama perangkat intrumennya. Ia mulai bertanya, mengamati, dan memahami setiap hal yang menurutnya aneh, unik, wagu, lucu, dan tak wajar. Akhirnya pemuda itu pun menanyakan maksud peneliti, mengapa ia sampai ingin melakukan penelitian. Sang peneliti menjawabnya dengan ringan bahwa rumah ini termasuk rumah yang mempunyai arsitektur unik menurutnya. Alasan yang tidak buruk, sehingga pemuda alias tuan rumah mengizinkan peneliti untuk menyelesikan misinya. Tapi sebelum itu ia juga bertanya , apa peneliti bermaksud untuk tinggal di rumah ini atau hanya sebatas masuk dan meneliti saja. Peneliti menjawab bahwa jika diizinkan ia ingin tinggal selamanya di rumah itu. Pemuda pun tersenyum, entah senyum apa itu, meng’iya’kan atau menolak, tak jelas!
Waktupun berjalan, peneliti masih saja sibuk dengan hal yang ia teliti, sampai akhirnya ia tidak diizinkan oleh tuan rumah untuk menetap di rumah itu. Ia terpaksa keluar dengan sejuta pertanyaan, di kepalanya. “Penelitian ini belum selesai, mengapa aku harus dipaksa keluar” keluhnya dalam hati. Tapi ia tak bisa berbuat lebih banyak selain mengikuti keputusan pemuda itu. Dan dalam jarak beberapa hari, rumah itu pun kehilangan ruh. Sang pemilik pun diam-diam meninggalkannya. Kini rumah itu tak berpenghuni, peneliti tertegun dan ingin mengatakan kepada pemuda pemilik rumah itu bahwa “ Rumahmu kosong, mulai gelap, pengap, dan dingin, jika kau terlalu lama meninggalkannya maka lambat laun ia akan menetak retak lalu hancur”. Tapi pemuda itu hanya diam – berpikir - mungkin.
*) Penggiat sastra dan penulis lepas dalam Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Kabupaten Semarang
Rumah yang sebagian besar dindingnya terbuat dari kaca itu, nampak indah jika ada cahaya yang memantul dipermukaan kaca, membuat kesan bahwa rumah itu benar-benar indah dan megah. Kenyataan itu bertolak belakang dengan pemiliknya, yang sederhana. Seorang pemuda yang sangat “khas” kataku. Rumah yang tengah berdiri itu tak pelak mengundang seorang peneliti. Peneliti yang penasaran karena keunikan bangunannya. Hingga suatu saat sang peneliti bertandang ke rumah itu, tetapi sayang pintu rumah tak menerimanya. Hari selanjutnya ia datang lagi, tetapi ia hanya mendapati hal yang sama, lalu ia datang dan datang lagi, nyaris tiap hari ia datang tapi tak ada hasil, sehingga ia memutuskan untuk tetap berdiam di depan rumah sampai pintu rumah terbuka dan tuan rumah mempersilahkan ia masuk dan bertanya tentang maksud kedatangannya.
Gayung pun bersambut, pintu kaca terbuka sang peneliti masuk bersama perangkat intrumennya. Ia mulai bertanya, mengamati, dan memahami setiap hal yang menurutnya aneh, unik, wagu, lucu, dan tak wajar. Akhirnya pemuda itu pun menanyakan maksud peneliti, mengapa ia sampai ingin melakukan penelitian. Sang peneliti menjawabnya dengan ringan bahwa rumah ini termasuk rumah yang mempunyai arsitektur unik menurutnya. Alasan yang tidak buruk, sehingga pemuda alias tuan rumah mengizinkan peneliti untuk menyelesikan misinya. Tapi sebelum itu ia juga bertanya , apa peneliti bermaksud untuk tinggal di rumah ini atau hanya sebatas masuk dan meneliti saja. Peneliti menjawab bahwa jika diizinkan ia ingin tinggal selamanya di rumah itu. Pemuda pun tersenyum, entah senyum apa itu, meng’iya’kan atau menolak, tak jelas!
Waktupun berjalan, peneliti masih saja sibuk dengan hal yang ia teliti, sampai akhirnya ia tidak diizinkan oleh tuan rumah untuk menetap di rumah itu. Ia terpaksa keluar dengan sejuta pertanyaan, di kepalanya. “Penelitian ini belum selesai, mengapa aku harus dipaksa keluar” keluhnya dalam hati. Tapi ia tak bisa berbuat lebih banyak selain mengikuti keputusan pemuda itu. Dan dalam jarak beberapa hari, rumah itu pun kehilangan ruh. Sang pemilik pun diam-diam meninggalkannya. Kini rumah itu tak berpenghuni, peneliti tertegun dan ingin mengatakan kepada pemuda pemilik rumah itu bahwa “ Rumahmu kosong, mulai gelap, pengap, dan dingin, jika kau terlalu lama meninggalkannya maka lambat laun ia akan menetak retak lalu hancur”. Tapi pemuda itu hanya diam – berpikir - mungkin.
*) Penggiat sastra dan penulis lepas dalam Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Kabupaten Semarang
Rabu, 27 Oktober 2010
Hidupku Mengukur Diujung Pulau
Tak bisa menulis dengan kebisuan, hidup = mati, mati = sendiri. Laut itu memerah laiknya percikan darah yang menari dari liaran makna hidup. Akan sampai pada waktunya, di mana tarian itu meredup dengan tali kasihnya. Aku tak mampu mengeja kata pun meraba maya.
Aku akan menggali kuburku sendiri. Tiada beda dengan kerusuhan diotakku yang menyambar habis kegalauan. Tak pernah sampan berlabuh pada ogokan tanah di laut. Tak ada beda ia atau paras cantik. Semua akan tiba pada ketahanan yang hakiki...karena aku tak kan mampu memberi sedekah cinta dan aku tak kan bisa memberi sekantung rindu. Bukan apa-apa, karena tiada yang bisa menyingkapnya.
Ia sama sepertiku nyaris tanpa selisih...membercaki lembaran hitam dengan tinta manis. Ya...ya.. begitu hebatnya aku, meniduri malam lembab tanpa jeda yang berarti. Pergi...pergi ke dalam lubang senjamu. Aku bahkan tak rela memandang sapuan ombak gunung itu, hijau yang memerihkan! Menghebatkan birumu dengan daun laut itu, biru yang memilukan! Entah...retak meretak seuja bilurku meruwat hidup yang terkikis. Mencoba memahat pulau pikirku dengan pisau atau tatah. Membentuk petakpetak epigon yang menyesatkan. Terlalu lampau keklisean semesta yang menyapa zaman, karena rinai tak kan pulih dengan bantuan rinduk hujan.
Tak ada yang biasa di sini. Semua terpoles dengan kedengkian. Tak ada kebersahajaan dengan bumbu semu yang merebahkan aroma busuk ke seantero jagad.
Goresan Semu:
“Sandra Noryz”
(Magelang, 26 Oktober 2010)
Aku akan menggali kuburku sendiri. Tiada beda dengan kerusuhan diotakku yang menyambar habis kegalauan. Tak pernah sampan berlabuh pada ogokan tanah di laut. Tak ada beda ia atau paras cantik. Semua akan tiba pada ketahanan yang hakiki...karena aku tak kan mampu memberi sedekah cinta dan aku tak kan bisa memberi sekantung rindu. Bukan apa-apa, karena tiada yang bisa menyingkapnya.
Ia sama sepertiku nyaris tanpa selisih...membercaki lembaran hitam dengan tinta manis. Ya...ya.. begitu hebatnya aku, meniduri malam lembab tanpa jeda yang berarti. Pergi...pergi ke dalam lubang senjamu. Aku bahkan tak rela memandang sapuan ombak gunung itu, hijau yang memerihkan! Menghebatkan birumu dengan daun laut itu, biru yang memilukan! Entah...retak meretak seuja bilurku meruwat hidup yang terkikis. Mencoba memahat pulau pikirku dengan pisau atau tatah. Membentuk petakpetak epigon yang menyesatkan. Terlalu lampau keklisean semesta yang menyapa zaman, karena rinai tak kan pulih dengan bantuan rinduk hujan.
Tak ada yang biasa di sini. Semua terpoles dengan kedengkian. Tak ada kebersahajaan dengan bumbu semu yang merebahkan aroma busuk ke seantero jagad.
Goresan Semu:
“Sandra Noryz”
(Magelang, 26 Oktober 2010)
Langganan:
Postingan (Atom)