Gerakan Pramuka di Indonesia mengalami penurunan,
baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
karena kegiatan gerakan pramuka kurang popular atau menarik minat kaum muda,
generasi kepelatihan terhambat, dan dianggap tidak mampu menangkal dan menyelesaikan
masalah kaum muda. Pramuka yang dulu mempunyai kepribadian yang tercermin dalam
satya darma, seiring dengan perkembangan zaman, lambat laun bergeser dari
hakikat yang sebenarnya. Pramuka dianggap tidak relevan dengan fakta,
ketinggalan zaman dan ironisnya lagi anggota gerakan pramuka terlalu suka
dengan simbol-simbol tanpa tau arti dari simbol tersebut. Mereka terlalu sibuk
mencari atribut penghargaan sebanyak-banyaknya tanpa melalui tes atau uji
sebagai syarat untuk mendapatkannya. Lalu pramuka bisa dikatakan mahal karena
sangat terikat dengan seragam beserta pernak-perniknya mulai dari ujung kaki
sampai ujung kepala yang menuntut keseragaman dan kerapian anggota pramuka. Hal
ini merupakan indikasi bahwa pramuka sudah tidak menganut “azas kesederhanaan”
tetapi “azas keglamoran” yang tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Selasa, 10 Juli 2012
Minggu, 24 Juni 2012
Missing for my mom
By : Sandra Noryz...
If you go away...
This world will be full emptiness...
All these stories will be faded...
Every happines which is related to you...
Is nothing without you...
We love you, we need for you...
O sky, listen to our prayers...
Let’s be together...
Let’s a little bit a dreaming together...
I promise you that I’II not leave you...
We want to live for you...
We won’t angry with you...
No matter what you take from our life...
But we’ll never let you go...
Ahad, 24 Juni 2012...
For my mother “KASMIRAH”...
Wafat 30 Januari 2007...
(Never say goodbye), By: Sandra Noryz
Only your heart knows and mind too
And we’ll live separate path of life
We’ll be way separate who knows where
Don’t leave from my memories
Never say goodbye
All the happiness eventually has gone from my life
Only pain in my heart will remain
I tried to cry and laugh
But my heart feel so uneasy
So uneasy
Are these rain drops or embers of fire
No, it’s a fire spark that flowing from my eyes
Never say goodbye
BILA BERKATA JUJUR
Drs. Rasmo
Bibir dan mulut jadi lincah menari
Mengabarkan apa yang dilakukan
Apa yang dirasakan
Apa yang dilihat
Apa yang dibuat-buat
Kepada sejawat, atasan, dan khalayak
Tugas mulia menyangga kebenaran
Meski berat untuk banyak orang
Ditengah badai tugasmu
Tak bisa membedakan bau bunga dan bau bangkai
Bila berkata jujur
Siapa yang percaya?
Sebab kejujuran adalah soal
Yang tak perlu dikatakan
Karena ia selalu tertampakkan
Pati, 24 Desember 2011
Sajak ini dihadiahkan oleh guruku ^_^
Senin, 21 Mei 2012
Sang Altruis*) Oleh: Sandra Noryz
Sangkaku terbalik jauh
Benang yang tidak sengaja terjatuh itu menjadi terurai begitu panjangnya
Adagium pernah berkata: “Witing tresna jalaran saka kulina”...
Begitu saktinya kumpulan huruf itu hingga mampu merubah hidup dalam sekejapan.
Hatiku tertuang menjadi cinta yang beraksioma untukmu
Saat kau jelma dirimu menjadi altruis hidupku
Afirmasimu terhadapku telah meluluhkanku
Kata-kata absurdmu telah meyakinkanku
Tentang Apatismu, arkaismu, bombastismu menjadi frontal bagiku
Aku bukan hipokrit, maka aku kan permisif untukmu
Jangan skeptis dengan rasa ini sayang...
ubi voluntas est ibi est via
Mari kita belajar tentang futurologi saja
Agar fluktuasi hati ini terkendali
Tak butuh Aklamasi pun Advis untuk menjawabmu
Aku hanya bisa berkata :”Omnia Vincil Amor Ellit Pipop Setiawan”
*) Sajak ini kualamatkan pada Ellit Pipop Setiawan “Altruis Hatiku”
Ruteng, 140112
00.00 WITA
On The Trip to NTT
Selasa, 13 Desember 2011
Senja hari petualangan menuju negeri flores dimulai. Tak bisa tergambarkan bagaimana rumusan hati terbentuk. Rasa dituang dalam tatapan mata keluarga yang mengantar di auditorium UNNES. Sebuah universitas yang menjunjung tinggi jargon Konservasi. Sebuah universitas yang melahirkan pejuang kemerdekaan di pelosok nusantara yakni pendidik anak bangsa. Rasa haru tentu menyeruak dari bilik hati melihat tatapan binar dan semangat tertahan dari pendidik anak bangsa yang menguatkan keluarganya satu-per satu, mencoba menjelaskan kepada orang terkasih bahwa “Aku ingin mendidik indonesia” , kalimat yang sesungguhnya sederhana namun sulit diucapkan. Kalimat itu tetap pada tempatnya yakni hati. Roda-roda berputar, tekad yang kuat telah menyertai para pendidik sore itu dan mengantar mereka menuju Bandara Juanda Surabaya.
Selasa, 17 Januari 2012
1% Sandra Noryz*)`
Ruhku telah berhenti berlari. Aku merasa menemukan kehidupan baru disini. Kehidupan tak terlihat. Kehidupan kosong. Kehidupan yang lamat-lamat menggerogoti hatiku hingga meradang. Aku sendiri tak pernah sadar dengan penyakit hati ini yang tiba-tiba melanda, membuatku merangsek ke tepi jurang hitam. Tidak...seharusnya ini bukan Deja Vu atau sekadar kamuflaseku yang liar. Ini nyata. Dia ada. Dia di hatiku sekarang. Dia penyakitku sekarang. Dia...yang tidak begitu jelas telah menuntunku kebibir jurang itu. Aku sangat mengenal tempat ini. Tempat yang sudah membunuh akalku. Tempat yang sudah membuatku sekarat karena hatiku membusuk dan otakku bengkak penuh nanah. Aku tak habis pikir dengan semua ini. Maunya aku kembali ke tempat ini. Tidak jelas akan mati atau hidup bak mayat hidup seperti dulu-dulu. Bodohnya aku kembali dengan selangit harap yang ternyata kosong.
“1%” katanya. Aku harus hidup dengan 1% rasa. Jika ditengok dengan akal sehat, ini tidak logis. Aku tidak akan mampu hidup dengan harapan yang hanya 1%. Bodoh ataukah bebal otakku ini, aku sudah diperalat, aku sudah diperdaya, aku telah kalah darinya. Susah payah aku membangun tembok yang begitu kokoh dihatiku, masih tetap runtuh juga olehnya. Sial...umpatanku tidak cukup untuk membodohkan diriku. Hebat...kuakui kehebatannya telah mengalahkanku, strategi apa yang ia gunakan untuk meruntuhkan dinding penghalangku. Aku selalu berjaga 24 jam, agar ia tetap utuh. Taktik ini sungguh jitu menurutku. Lagi-lagi sial...aku dikadali oleh ilusi berkemas nyata. Dia hanya kosong, setengah mati aku menc arinya. Dia lenyap bagai angin.
Hati dan logika
Untuk kali ini, mereka tidak beriringan. Aku sendiri susah payah menyatukan mereka. Hatiku mau saja di bawa ke pinggir jurang, tapi otakku setengah mati menolaknya. Dia telah membuat buyar semua-mua...Hati berjalan sendiri, logikan pun sama.
Hati : Aku akan menerimanya. Meski hanya 1% dia tetap memberi harap bagiku.
Logika : Bodoh kau, seharusnya kau belajar dpada kematianmu yang dulu. Susah payah kau bangkit dari keterpurukanmu, lalu sekarang kau kembali pada jalan yang sama?
Hati : Aku tau itu, aku juga tidak akan melupakan kejadian itu. Kejadian yang hampir membuatku lumpuh seumur hidup.
Logika : Itu kau tau, mengapa harus kau ulangi lagi?
Hati : Kau tau, aku merasa hampa jika sendiri. Aku butuh harapan yang akan membuatku tetap hidup.
Logika : Masih banyak harapan-harapan lain. Yang lebih penting dari pada harapan itu. Percayalah, kau akan tetap hidup.
Hati : Tidak, harapan yang lain tetap berbeda dengan harapan itu. Harapan itu akan membuatku lebih kuat dan bahagia dalam menjalani hidup.
Logika : Kau percaya harapan itu akan membuatmu bahagia? Sedang ia hanya memberimu 1%? Hanya 1%, tidak lebih.
Hati : Aku sangat mempercayainya, meski ia hanya memberiku satu persen.
Logika : Apa kau tidak takut, ia hanya akan mempermainkanmu saja, seperti harapan-harapan yang dulu?
Hati : Sebenarnya, lukaku juga belum kering. Masih ada perasaan takut yang membuncah kalau dia tidak benar-benar denganku.
Logika : Tinggalkan dia, sebelum kau mati untuk kesekian kalinya.
Hati : Tidak, aku akan mencoba mempercayainya.
Logika : Dia tidak akan benar-benar denganmu.
Hati : Bismillah, aku akan mencoba dengannya.
Begitulah pertarungan yang terjadi antara hati dan logika. Untuk sekarang hatiku tidak bisa dikendalikan, ia sangat liar melebihi liarnya kuda yang berada di Sumbawa. Logikakupun menyerah sudah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa melihat hati yang sangat gembira dengan hadirnya harapan yang hanya 1%. “Sedikit sekali, tak bisakan harapan itu bertambah menjadi 50% atau bahkan 100%”, pikirnya. Aku akan selalu mendukungmu, hati. Jika suatu saat harapan itu hilang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi untukmu.
Hatiku berkata lirih: “Harapan, aku mencintaimu dengan 1% rasa yang ada”.
*)Penulis Lepas Komunitas Sastra Indonesia
“1%” katanya. Aku harus hidup dengan 1% rasa. Jika ditengok dengan akal sehat, ini tidak logis. Aku tidak akan mampu hidup dengan harapan yang hanya 1%. Bodoh ataukah bebal otakku ini, aku sudah diperalat, aku sudah diperdaya, aku telah kalah darinya. Susah payah aku membangun tembok yang begitu kokoh dihatiku, masih tetap runtuh juga olehnya. Sial...umpatanku tidak cukup untuk membodohkan diriku. Hebat...kuakui kehebatannya telah mengalahkanku, strategi apa yang ia gunakan untuk meruntuhkan dinding penghalangku. Aku selalu berjaga 24 jam, agar ia tetap utuh. Taktik ini sungguh jitu menurutku. Lagi-lagi sial...aku dikadali oleh ilusi berkemas nyata. Dia hanya kosong, setengah mati aku menc arinya. Dia lenyap bagai angin.
Hati dan logika
Untuk kali ini, mereka tidak beriringan. Aku sendiri susah payah menyatukan mereka. Hatiku mau saja di bawa ke pinggir jurang, tapi otakku setengah mati menolaknya. Dia telah membuat buyar semua-mua...Hati berjalan sendiri, logikan pun sama.
Hati : Aku akan menerimanya. Meski hanya 1% dia tetap memberi harap bagiku.
Logika : Bodoh kau, seharusnya kau belajar dpada kematianmu yang dulu. Susah payah kau bangkit dari keterpurukanmu, lalu sekarang kau kembali pada jalan yang sama?
Hati : Aku tau itu, aku juga tidak akan melupakan kejadian itu. Kejadian yang hampir membuatku lumpuh seumur hidup.
Logika : Itu kau tau, mengapa harus kau ulangi lagi?
Hati : Kau tau, aku merasa hampa jika sendiri. Aku butuh harapan yang akan membuatku tetap hidup.
Logika : Masih banyak harapan-harapan lain. Yang lebih penting dari pada harapan itu. Percayalah, kau akan tetap hidup.
Hati : Tidak, harapan yang lain tetap berbeda dengan harapan itu. Harapan itu akan membuatku lebih kuat dan bahagia dalam menjalani hidup.
Logika : Kau percaya harapan itu akan membuatmu bahagia? Sedang ia hanya memberimu 1%? Hanya 1%, tidak lebih.
Hati : Aku sangat mempercayainya, meski ia hanya memberiku satu persen.
Logika : Apa kau tidak takut, ia hanya akan mempermainkanmu saja, seperti harapan-harapan yang dulu?
Hati : Sebenarnya, lukaku juga belum kering. Masih ada perasaan takut yang membuncah kalau dia tidak benar-benar denganku.
Logika : Tinggalkan dia, sebelum kau mati untuk kesekian kalinya.
Hati : Tidak, aku akan mencoba mempercayainya.
Logika : Dia tidak akan benar-benar denganmu.
Hati : Bismillah, aku akan mencoba dengannya.
Begitulah pertarungan yang terjadi antara hati dan logika. Untuk sekarang hatiku tidak bisa dikendalikan, ia sangat liar melebihi liarnya kuda yang berada di Sumbawa. Logikakupun menyerah sudah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa melihat hati yang sangat gembira dengan hadirnya harapan yang hanya 1%. “Sedikit sekali, tak bisakan harapan itu bertambah menjadi 50% atau bahkan 100%”, pikirnya. Aku akan selalu mendukungmu, hati. Jika suatu saat harapan itu hilang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi untukmu.
Hatiku berkata lirih: “Harapan, aku mencintaimu dengan 1% rasa yang ada”.
*)Penulis Lepas Komunitas Sastra Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)

