Kita boleh Telanjang, tapi jangan bulat-bulat.



Selalu ingin menulis kata yang dapat memberi suntikan semangat, kata yang sederhana namun ber-Daya...bagi hidupku...^_^


Butuh advis untuk meringankan antesedan. Seenaknya menganulir dengan apatis, padahal animo hampir finish. Hanya saja apriori belum merekah, masih berupa argot-argot beku. Disparitas menciptakan elegi. Perasaan yang frontal menjadi fluktuatif. Genial..., grafologi dan futurologi tak terdeteksi. Aku bukan hipokrit pun indolen yang mengkamuflase segala. Hapus sikap skeptis karena kita butuh restorasi...!


"Selamat menyelami huruf-huruf (usang)-ku"

Kamis, 02 Juni 2011

PUING HATI

Aku hanya makhluk biasa
Aku hanya manusia biasa
Aku hanya wanita biasa
Aku hanya seorang yang sangat biasa
Yang tak mengerti permainanmu
Yang tak mengerti bahasamu
Yang tak mengerti tanda-tandamu
Yang tak mengerti segala-mu
Aku tak paham
Aku tak tahu
Segala yang kau tunjukkan padaku
Lewat udara
Lewat kata
Lewat ucapan
Lewat mata
Lewat laga
Yang kau tunjukkan padaku
Ironis!!!
Sebut saja aku bodoh
Sebut saja aku klowor
Sebut saja aku bebal
Sebut saja aku BAKA (idiot dlm bhs jepang)
Yang ku tahu:
Aku harus ”MENGERTIMU” dengan sisa cintaku
Ya....
Inilah puing-puing hati yang sedang dirajut agar tetap utuh........
S_a_b_a_r

Senin, 02 Mei 2011

Tradisi Meron Dalam Masyarakat Sukolilo

Perubahan merupakan output dari pertumbuhan dan perkembangan. Dalam era global semacam ini, tak pelak perubahan semakin mengekspansi seluruh sendi-sendi kehidupan, apalagi dengan perubahan dalam masyarakat sekarang yang terbilang sangat wajar, mengingat manusia memiliki kebutuhan yang tidak terbatas. Perubahan itu dapat terjadi di berbagai aspek kehidupan, seperti peralatan dan perlengkapan hidup, mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, serta religi/keyakinan.

Masyarakat tidak dapat lepas dari yang namanya perubahan, meski mereka tidak mengiginkannya sekalipun, tetapi perubahan akan tetap terjadi. Perubahan dalam aspek kehidupan misalnya, manusia tidak akan terus hidup kekal, penuaan akan terjadi dan menyebabkan perubahan wajah serta pemikiran. Begitupun dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang lebih tepatnya disebut perubahan sosial. Dari perubahan sosial yang terjadi, maka budaya sekitar pun ikut berubah, karena pada hakikatnya perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Budaya yang sudah tertanam kuat dalam konvensi masyarakat, lambat laun terkikis oleh arus globalisasi. Termasuk dalam hal ini eksistensi masyarakat adat dalam suatu daerah yang semakin terancam. Sehingga upaya eksistensi dalam tubuh masyarakat adat sangat perlu, ditengah besarnya pemberangusan dan penghancuran terhadap berbagai nilai dan pranata-pranata yang dimiliki.

Masyarakat Sukolilo dan Meronan

Negara Indonesia tak akan lepas dari semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang menunjukkan kemajemukannya. Keragaman ini bisa dilihat dalam realitas berbagai kelompok masyarakat diseluruh nusantara yang juga bermuara pada perbedaan adaptasi interaktif atau komunitas terhadap ekosistem lokalnya yang melahirkan kearifan lingkungan dan ‘mode of production’ yang berbeda satu sama lain. Namun keragaman tersebut kini disatukan sebagai bangsa Indonesia dan lalu dipilah-pilah kedalam berbagai suku bangsa, kelompok penutur bahasa tertentu, maupun kelompok penganut ajaran agama yang berbeda satu sama lain.

Salah satu bagian dari keanekaragaman adalah konsepsi yang berlangsung dalam masyarakat di Desa Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Masyarakat yang hidup dilereng pegunungan kendeng ini, mempunyai perangai yang ramah sesuai dengan karakter orang Jawa pada umumnya. Sifat halus adalah ciri khas masyarakat Jawa. Kehidupan diyakini harus dijalani dengan tenang sehingga ketenangan batin tetap terjaga. Berbicara keras atau berperilaku ramai hanya akan menghabiskan energi (Handayani & Novianto, 2004:125).

Begitulah watak masyarakat di desa Sukolilo, yang tidak dapat dipisahkan dengan tradisi. Upacara tradisi Meron di Sukolilo diadakan pertama kali pada masa pemerintahan Kasultanan Mataram (awal abad 17). Desa Sukolilo berada di bawah kekuasaan Kadipaten Pati Pesantenan yang dipimpin oleh Bupati Wasis Jaya Kusuma. Demang Sukolilo pada saat itu adalah Sura Kerto yang merupakan salah satu dari lima bersaudara. Kelima bersaudara itu antara lain: Sura Kadam, Sura Kerto, Sura Yuda, Sura Dimeja, dan Sura Nata. Karena kelimanya semuanya laki-laki, maka disebut Pandawa Lima yang merupakan keturunan dari kerajaan Mataram.

Tradisi Meron merupakan kegiatan mengarak gunungan menuju halaman Masjid Sukolilo. Sebelum tahun 1971, upacara diadakan di pasar Sukolilo. Acara ini dilaksanakan setiap Maulud Nabi Muhammad SAW. Gunungan dipersiapkan oleh perangkat desa yang telah disepakati dalam kepanitian. Gunungan tersebut terbuat dari bahan ketan yang dirangkai sesuai dengan ketentuan tradisi yang ada. Bahan ketan tersebut dibuat ampyang (rengginang), cucur, dan once (ampyang yang dibuat kecil-kecil kemudian dironce sebagai lambang bunga melati). Para tetangga dan kerabat dari segenap perangkat desa bekerjasama dalam membuat gunungan. Jumlah gunungan tidak boleh kurang dari 12. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, apabila kurang dari 12 akan mendatangkan malapetaka.
Bentuk Eksistensi

Tradisi merupakan gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilaksanakan secara turun-temurun dari nenek moyang. Tradisi dipengaruhi oleh kecenderungan untuk berbuat sesuatu dan mengulang sesuatu sehingga menjadi kebiasaan.

Meski masyarakat desa Sukolilo, tidak menolak perubahan tetapi mereka bisa menempatkan diri dan mempertahankan budaya mereka. Mereka tetap melakukan kontak dengan budaya lain, menganut sistem pendidikan formal yang maju, dan mempunyai sistem terbuka masyarakat (Open Stratification). Bagi sebagian masyarakat tidak dapat melakukan hal tersebut, tetapi berbeda dengan masyarakat sukolilo yang terbilang sukses mempertahankan diri dari arus global dengan tidak menghindarinya.

Bentuk eksistensi masyarakat adat yang berada di desa Sukolilo tepatnya di kabupaten Pati ini adalah melalui tradisi meron, yang merupakan salah satu upaya penolakan pemberangusan. Mereka mempunyai cara tersendiri untuk tetap eksis, meski zaman telah berubah. Salah satu cara yang digunakan melalui Tradisi yang tetap keukeuh dipertahankan dari zaman dulu hingga sekarang yakni Tradisi Meronan. Dan dalam realitanya sudah dapat dilihat bahwa sistem dan nilai-nilai yang selama ini hidup dan dipraktikkan masyarakat desa Sukolilo ternyata lebih bisa memberikan daya immun (tahan) bagi anggota masyarakat.

_Sandra Novita Sari, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Negeri Semarang

Senin, 04 April 2011

Sebuah Mimpi

Yang aku inginkan engkau ada di sini
menemani hidupku disepanjang waktuku
Yang aku inginkan kamu ada dihatiku mengisi relung sukmaku yang merindu
Akankkah semua ini abadi
Dapatkah selamanya kau ada di sisi

Aku ingin rasa ini terjadi
terwujud tak hanya sebuah mimpi-mimpi

Ku jaga engkau sampai akhir masa nanti
Sampai ragaku ini tak lagi berdiri
Kuharap semua tetap abadi
Kuingin selamanya kau tetap disini

Aku ingin rasa ini terjadi
terwujud tak hanya sebuah mimpi-mimpi
Aku ingin cinta terjalin
terwujud tak hanya, hanya angan-angan

Jumat, 18 Maret 2011

JALAR KOMAKU

Jalin kasihku mulai tertaut satu demi satu
Seperti menyibak tumpukan jalar,
padangku menyusut titik demi titik
mencipta koma:
koma jalarku mengeja huruf J-O-G-J-A
koma jalarku mengeja hurus R-A-S-A
dan koma jalarku mencipta deretan
A-U-F-K-L-A-R-U-N-G...!!!
Hingga koma jalarku berkata:
“Waspada, anda berada di Zona Bahaya...stabilkan suhu udara dalam hati!”

(Jogja: 16-17 Maret 2011)

Minggu, 27 Februari 2011

Bahasa Jawa Punah di Pulau Jawa ??

Ya, mungkin itu yang akan terjadi dalam kurun waktu 20-30 tahun lagi jika bahasa Jawa kian terpinggirkan di kalangan masyarakat pulau Jawa itu sendiri. Sebagai pemilik bahasa Jawa, masyarakat Jawa seharusnya menjaga kelestarian dan kelangsungan hidup bahasa Jawa di komunitasnya sendiri. Namun yang terjadi malah sebaliknya, yang terjadi saat ini para kaum muda di pulau Jawa, khususnya mereka yang masih menginjak usia sekolah hampir sebagian besar tidak menguasai bahasa Jawa alias gagap berbahasa Jawa.

Hal itu bisa disebabkan oleh gencarnya serbuan beragam budaya asing dan arus informasi yang masuk melalui bermacam sarana seperti televisi dan lain-lain. Pemakaian bahasa gaul, bahasa asing dan bahasa seenaknya sendiri (campuran jawa indonesia english)juga ikut memperparah kondisi bahasa Jawa yang semakin lama semakin surut ini di Jawa.

Betapa tidak, saat ini murid tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah yang mendapatkan pelajaran bahasa Jawa sebagian besar dari bangku sekolah. Sementara pelajaran bahasa Jawa yang dulunya merupakan pelajaran wajib sekarang hendak (bahkan sudah mulai) dihilangkan daftar mata pelajaran sekolah.

Sedangkan penggunaan bahasa Jawa di lingkungan rumah pun tidak lagi seketat seperti di masa-masa dulu. Orang tua tidak lagi membiasakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari sebagai alat komunikasi di keluarga. Bahasa Indonesia atau bahasa asing yang diajarkan kepada anak-anak mereka, entah dengan berbagai macam pertimbangan. Bahasa Jawa, apalagi bahasa Krama Inggil pun kian terabaikan. Dan juga yang kian memperparah adalah pandangan terhadap bahasa Jawa dari generasi muda adalah bahasa orang-orang desa, orang udik, orang-orang pinggiran, atau orang-orang jadul.

Jika pengembangan bahasa Jawa ini tidak berkelanjutan alias putus di generasi muda sekarang maka benar-benar akan terjadi kepunahan bahasa Jawa di daerahnya sendiri. Bagaimana bisa menjelaskan dan melatih anak cucu mereka jika mereka sendiri tak mampu berbahasa Jawa.

Seperti bisa kita lihat di Surabaya atau wilayah sekitarnya yang notabene adalah pemakai bahasa Ngoko kasar, coba ajak anak-anak muda berbicara bahasa Jawa halus atau Krama Inggil yang njelimet dan ruwet itu, pastilah mereka akan gagap dan kesusahan dalam berbahasa Jawa halus, karena kebiasaan berbahasa Jawa mereka ya bahasa Ngoko kasar itu. (Saya pun juga demikian, meski asli Trenggalek kemudian menghabiskan waktu kecil di Gresik, kemudian balik lagi ke Trenggalek dan sekarang di Surabaya, akan tetapi dikarenakan tidak biasa berbahasa Jawa halus ya lumayan gagap jika disuruh berbahasa Jawa Krama apalagi Krama Inggil hehehehe... Maaf!). Dan hal seperti itu tidak hanya terjadi di wilayah Jawa Timur aja, tetapi juga nyaris di seluruh pulau Jawa.

Mungkin untuk saat ini kaum ningrat di lingkungan keraton dan sekitarnya yang bertutur bahasa super halus itu yang bisa melestarikan penggunaan dan pengembangan bahasa Jawa ini. Atau juga masyarakat pedesaan yang masih terbiasa berbahasa Jawa karena kondisi lingkungan yang menuntut hal seperti itu, dan para dalang yang bahasanya aneh-aneh itu, hehehe.

Nah, coba bayangkan jika seluruh masyarakat pulau Jawa ini tak mampu lagi berbahasa Jawa maka yang terjadi adalah hilangnya bahasa Jawa di pulau Jawa itu sendiri.

Oh bahasa Jawa, nasibmu kini....

Sabtu, 26 Februari 2011

Japan's poem

Alangkah keringnya pagi, tanpa embun didaunku

たいへんかわ,大変乾くあさ,朝、ぼく,僕のは,葉につゆ,露がない。
Taihen kawaku asa, boku no ha ni tsuyu ga nai.

Alangkah kosongnya angin, tanpa gerak didaunku

たいへんから,大変空っぽなかぜ,風、ぼく,僕のは,葉が 動かない。
Taihen karappona kaze, boku no ha ga ugokanai.

Mengibaskan, mengirim sejuk keparu-parumu itu.

ふ,振って、すず,涼しさをおく,送る。きみ,君のはい,肺へ。
Futte, suzushisawo okuru. Kimi no hai e.

Minggu, 13 Februari 2011

RINDUNG

Gruduk…
Gruduk…
Gruduk…
Gemuruh Gluduk
Menciduk bulu kuduk
Tak sempat terbentuk
berjalan terantuk
semua mengantuk
terbawa kantuk
tuk…
tuk…
tuk…
kebluntuk

Sandra (2008: puncak ungaran)